Ada momen ketika seseorang membuka aplikasi belanja tanpa tujuan yang jelas. Awalnya hanya ingin melihat-lihat, tapi beberapa menit kemudian, barang sudah masuk keranjang dan proses checkout terasa seperti langkah yang wajar.

Kebiasaan ini semakin umum terjadi. Flash sale, notifikasi diskon, dan tampilan aplikasi yang dirancang menarik membuat proses membeli terasa cepat dan mudah. Tanpa banyak pertimbangan, keputusan bisa terjadi dalam hitungan detik.

Di titik ini, belanja tidak lagi sepenuhnya tentang kebutuhan. Ia mulai bergeser menjadi aktivitas yang terasa biasa, bahkan otomatis. Dari sini, muncul pertanyaan yang jarang diajukan: keputusan itu benar-benar datang dari kebutuhan, atau hanya mengikuti kebiasaan.

Apa yang terlihat sebagai tindakan sederhana, sebenarnya menyimpan pola yang lebih dalam.

Baca Juga: Banyak yang Mulai Hidup Sederhana, Tapi Kenapa Nggak Gampang Ya?

Ketika Membeli Menjadi Respons, Bukan Keputusan

Dalam banyak situasi, proses membeli tidak lagi dimulai dari kebutuhan. Ia sering dimulai dari stimulus kecil, seperti rasa bosan, lelah, atau sekadar ingin mencari sesuatu yang terasa menyenangkan.

Contoh paling nyata bisa dilihat dari kebiasaan membuka marketplace di waktu senggang. Seseorang yang awalnya hanya ingin scrolling, perlahan mulai melihat produk, membandingkan harga, lalu akhirnya membeli sesuatu yang sebelumnya tidak direncanakan.

Psikolog B.F. Skinner menjelaskan bahwa perilaku manusia sering dipengaruhi oleh sistem reward. Ketika suatu tindakan memberi rasa senang, ada kecenderungan untuk mengulanginya.

"A behavior followed by a reinforcing stimulus results in an increased probability of that behavior occurring in the future" — B.F. Skinner

Dalam konteks ini, proses checkout bisa menjadi bentuk reward kecil. Sensasi mendapatkan barang baru, atau sekadar menyelesaikan transaksi, memberi kepuasan instan yang mendorong kebiasaan itu terus berulang.

Dari sini, membeli tidak lagi menjadi keputusan yang dipikirkan secara penuh. Ia berubah menjadi respons terhadap perasaan tertentu.

Baca Juga: Kita Belanja Banyak Hal, Tapi Kenapa Tetap Ngerasa Kurang?

Antara Rasa Perlu dan Rasa Ingin

Masalahnya, batas antara kebutuhan dan keinginan tidak selalu jelas. Diskon membuat sesuatu terasa lebih masuk akal untuk dibeli. Promo memberi kesan bahwa kesempatan tidak boleh dilewatkan.

Contoh lain terlihat pada fenomena “barang datang, tapi tidak terlalu dipakai”. Banyak orang menyadari bahwa barang yang dibeli tidak benar-benar dibutuhkan, tapi tetap merasa keputusan itu wajar pada saat itu.

Penelitian dari Journal of Consumer Research menunjukkan bahwa emosi memiliki peran besar dalam keputusan pembelian. Keputusan sering kali dibuat dalam kondisi emosional tertentu, bukan berdasarkan kebutuhan rasional.

Ketika emosi menjadi faktor utama, keputusan membeli menjadi lebih cepat. Namun setelah emosi mereda, muncul jarak antara apa yang dibeli dan apa yang sebenarnya dibutuhkan.

Di titik ini, belanja bukan lagi sekadar aktivitas ekonomi. Ia menjadi bagian dari cara seseorang merespons perasaan dan situasi.

Mungkin yang membuatnya terasa biasa bukan karena itu kebutuhan. Tapi karena kebiasaan tersebut sudah berlangsung cukup lama.

Karena bisa jadi, yang selama ini terjadi bukan kita membeli sesuatu yang dibutuhkan. Tapi kita terbiasa membeli tanpa benar-benar bertanya kenapa. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.