Banjir kerap menjadi wajah paling terlihat dari bencana hidrometeorologi. Padahal, di baliknya ada rangkaian peristiwa lain yang sama berbahayanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah bencana hidrometeorologi semakin sering muncul dalam laporan kebencanaan di Indonesia. Banyak orang langsung mengaitkannya dengan banjir, karena peristiwa itulah yang paling sering terjadi dan berdampak luas. Namun sesungguhnya, bencana hidrometeorologi mencakup lebih dari sekadar air yang meluap.

Bencana jenis ini berkaitan erat dengan dinamika cuaca dan iklim. Ia muncul sebagai hasil interaksi antara atmosfer, air, dan kondisi permukaan bumi. Ketika keseimbangan itu terganggu, dampaknya bisa merembet ke berbagai aspek kehidupan manusia.

Memahami jenis-jenis bencana hidrometeorologi menjadi penting agar kewaspadaan tidak berhenti pada satu ancaman saja. Pengetahuan ini juga membantu masyarakat dan pemangku kepentingan menyusun langkah mitigasi yang lebih menyeluruh.

Baca Juga: Mitigasi Masih Lambat Ditanggapi: Kenapa Begitu Sulit Bermain Cepat di Perubahan Iklim?

Ragam Bencana Hidrometeorologi Selain Banjir

Selain banjir, tanah longsor termasuk bencana hidrometeorologi yang kerap terjadi, terutama di wilayah dengan curah hujan tinggi. Air hujan yang terus-menerus meresap ke dalam tanah dapat mengurangi daya ikat tanah, sehingga lereng menjadi rapuh dan mudah runtuh. Kondisi ini sering diperparah oleh alih fungsi lahan dan minimnya vegetasi penahan.

Bencana lain yang juga termasuk kategori ini adalah angin puting beliung dan badai tropis. Peristiwa tersebut terjadi akibat ketidakstabilan atmosfer, perbedaan tekanan udara, dan suhu yang ekstrem. Meski berlangsung singkat, dampaknya bisa merusak permukiman, lahan pertanian, hingga infrastruktur vital.

Kekeringan juga masuk dalam kelompok bencana hidrometeorologi, meskipun sering dipersepsikan sebagai kebalikan dari banjir. Kekeringan muncul akibat pola hujan yang tidak normal dan periode kemarau yang memanjang. Dampaknya terasa dalam jangka panjang, mulai dari krisis air bersih hingga ancaman ketahanan pangan.

Baca Juga: Cuaca Ekstrem di Pergantian Tahun, Apa yang Mesti Diwaspadai?

Mengapa Disebut Bencana Meteorologi dan Apa Bedanya

Istilah hidrometeorologi merujuk pada gabungan unsur hidro [air] dan meteorologi [atmosfer]. Artinya, bencana ini dipicu fenomena cuaca dan iklim, bukan oleh aktivitas geologis seperti gempa bumi atau letusan gunung api. Karena itu, ia kerap disebut sebagai bencana meteorologi atau bencana berbasis cuaca.

Meski pemicunya berasal dari alam, bencana hidrometeorologi tidak sepenuhnya bisa dilepaskan dari campur tangan manusia. Kerusakan lingkungan, perubahan tata ruang, dan emisi gas rumah kaca berkontribusi besar terhadap meningkatnya intensitas dan frekuensi bencana ini. Di titik inilah, batas antara bencana alam dan bencana akibat ulah manusia menjadi semakin kabur.

Bencana hidrometeorologi tetap dikategorikan sebagai bencana karena dampaknya yang mengancam keselamatan jiwa dan kehidupan sosial. Namun, berbeda dari bencana geologi yang sulit diprediksi, banyak bencana hidrometeorologi sebenarnya dapat diantisipasi lebih dini melalui sistem peringatan, perencanaan wilayah, dan kesadaran kolektif.

Menyikapi bencana hidrometeorologi bukan hanya soal kesiapsiagaan saat hujan deras datang. Ia menuntut perubahan cara pandang terhadap alam dan lingkungan. Ketika cuaca ekstrem semakin sering terjadi, pertanyaannya bukan lagi apakah bencana akan datang, melainkan seberapa siap kita menghadapinya. [][Rommy Rimbarawa/KK]

[penulisan artikel ini dibantu riset AI dan telah melewati kurasi Redaksi]