Di media sosial, sesuatu sering terlihat menarik bukan karena bentuknya, tapi karena angkanya. Sebuah tas, sepatu, atau makanan bisa terasa biasa saja, sampai harga mulai disebutkan. Di titik itu, perhatian langsung berubah.
Fenomena ini semakin mudah ditemukan. Video unboxing, review singkat, atau sekadar unggahan santai sering disertai satu hal yang terasa penting: berapa harganya. Dari sana, reaksi mulai terbentuk, bahkan sebelum orang benar-benar melihat fungsinya.
Yang menarik, fokusnya sering bukan kepada barang itu sendiri. Yang lebih menonjol justru angka yang menempel padanya. Dari sini, muncul pertanyaan yang jarang disadari: kita benar-benar melihat barangnya, atau hanya membaca nilainya lewat harga.
Baca Juga: Di Media Sosial, Standar Terus Berubah, Jadi, Cantik Versi Siapa yang Sedang Kita Kejar?
Ketika Harga Menjadi Konten Utama
Di banyak platform seperti Instagram atau TikTok, harga mulai punya peran baru. Ia bukan lagi sekadar informasi, tapi bagian dari konten itu sendiri. Semakin tinggi angkanya, semakin besar kemungkinan orang berhenti untuk melihat.
Hal ini terlihat dari bagaimana konten disusun. Judul, caption, atau bahkan opening video sering langsung menyebut harga. Tujuannya jelas, memancing perhatian secepat mungkin di tengah banyaknya konten yang lewat.
Psikolog Dan Ariely dalam Predictably Irrational menjelaskan bahwa manusia cenderung mengaitkan harga dengan nilai, bahkan ketika tidak ada perbedaan signifikan dalam kualitas. Harga tinggi memberi sinyal bahwa sesuatu layak diperhatikan, tanpa perlu penjelasan panjang.
Dari sini, flexing tak lagi selalu tentang menunjukkan barang. Ia bergeser menjadi cara menunjukkan nilai yang diasosiasikan dengan harga tersebut. Barang menjadi medium, sementara angka menjadi pesan utamanya.
Masalahnya, ketika harga menjadi pusat perhatian, cara kita menilai ikut berubah. Kita tidak lagi bertanya apakah sesuatu itu menarik, tapi apakah ia cukup mahal untuk dianggap menarik.
Baca Juga: Postingan Kita Biasa Saja, Postingan Orang Lain Terlihat Sempurna, Kenapa?
Kita Menonton, Lalu Ikut Menilai dengan Cara yang Sama
Menariknya, fenomena ini tidak berhenti di pembuat konten. Penonton juga ikut masuk ke pola yang sama. Komentar seperti “mahal banget”, “worth it nggak?”, atau “pantes aja” jadi respon yang umum.
Dari sini, interaksi tidak lagi fokus kepada pengalaman, tapi pada penilaian. Orang mulai membandingkan, menilai, bahkan mengukur sesuatu hanya dari angka yang terlihat. Tanpa sadar, harga menjadi standar yang digunakan bersama.
Sosiolog Thorstein Veblen melalui konsep conspicuous consumption menjelaskan bahwa konsumsi sering digunakan untuk menunjukkan status sosial. Dalam konteks media sosial, proses ini menjadi lebih cepat karena semua bisa dilihat secara langsung dan berulang.
Ketika pola ini terus terjadi, cara kita menikmati sesuatu ikut berubah. Kita tidak hanya melihat apa yang ada, tapi juga membandingkan dengan apa yang pernah dilihat sebelumnya. Dari sini, sesuatu yang sebenarnya cukup bisa terasa kurang.
Mungkin yang perlu dipertanyakan bukan hanya apa yang ditampilkan. Tapi bagaimana kita melihatnya. Karena bisa jadi, yang kita anggap menarik bukan barangnya, tapi cerita yang dibangun dari harganya. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.