Pernah membuka sebuah video yang durasinya hanya dua menit, tetapi justru menghabiskan sepuluh menit berikutnya untuk membaca kolom komentar? 

Atau membuka sebuah unggahan di media sosial, lalu tanpa sadar terus menggulir komentar demi komentar hingga lupa pada isi kontennya sendiri? Jika pernah, Anda tidak sendirian. Banyak orang memiliki kebiasaan yang sama.

Sekilas, kebiasaan ini terdengar aneh. Bukankah tujuan kita membuka media sosial adalah untuk melihat video, membaca tulisan, atau menikmati foto yang dibagikan? Mengapa justru kolom komentar yang sering membuat kita bertahan lebih lama?

Ternyata, ada alasan yang cukup manusiawi di balik kebiasaan tersebut.

Baca Juga: Sedihkah Kamu andai Story-mu Sedikit yang Lihat?

Komentar Membuat Sebuah Konten Terasa Lebih Hidup

Sebagian besar konten di media sosial bersifat satu arah. Seseorang membuat video, menulis pendapat, atau mengunggah sebuah foto, lalu kita mengonsumsinya sebagai penonton.

Kolom komentar mengubah situasi itu. Ia menghadirkan percakapan. Di sana, orang-orang bisa tertawa bersama, berdebat, memberikan tambahan informasi, atau menceritakan pengalaman yang mirip. Kadang-kadang, komentar yang muncul justru terasa lebih menarik daripada kontennya sendiri.

Ada komentar yang lucu, ada yang cerdas, dan ada pula yang membuat kita melihat sebuah isu dari sudut pandang yang sama sekali baru. Tidak jarang, kolom komentar bahkan berkembang menjadi ruang diskusi yang jauh lebih kaya dibandingkan unggahan awalnya.

Mungkin karena itu kita betah berlama-lama di sana. Kita merasa sedang berada di tengah keramaian dan menyaksikan banyak orang merespons sesuatu secara bersama-sama.

Pengalaman seperti ini berbeda dengan sekadar membaca sebuah artikel atau menonton video. Kita tidak hanya menerima informasi, tetapi juga melihat bagaimana orang lain memaknai informasi yang sama.

Baca Juga: Mengapa Kita Sesekali Menghapus Unggahan Lama?

Kita Ingin Tahu Apa yang Dipikirkan Orang Lain

Profesor ilmu perilaku dari University of Chicago, Nicholas Epley, banyak meneliti tentang ketertarikan manusia terhadap pikiran dan perspektif orang lain. Manusia pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap bagaimana orang lain melihat dunia.

Karena itulah, setelah melihat sebuah konten, kita sering terdorong untuk membuka kolom komentar. Kita ingin mengetahui apakah orang lain merasakan hal yang sama, memiliki pendapat yang berbeda, atau justru menemukan hal-hal yang luput dari perhatian kita.

Ada perasaan kecil yang menyenangkan ketika menemukan komentar yang sesuai dengan isi pikiran kita.

"Nah, saya juga memikirkan hal yang sama."

Perasaan itu membuat kita merasa tidak sendirian. Sebaliknya, ketika menemukan sudut pandang yang berbeda, rasa penasaran ikut muncul. Kita ingin membaca lebih jauh, melihat tanggapan orang lain, dan memahami mengapa seseorang memiliki pendapat yang berbeda.

Tanpa disadari, kolom komentar menjadi semacam ruang sosial yang memenuhi kebutuhan manusia untuk merasa terhubung. Kita tidak sekadar mencari informasi. Kita juga mencari kebersamaan, validasi, dan pengalaman berbagi makna.

Mungkin karena itulah sebuah video berdurasi dua menit bisa membuat kita bertahan selama lima belas menit di kolom komentar. Di sana, kita menemukan candaan yang terasa akrab, cerita yang mirip dengan pengalaman sendiri, atau orang-orang yang ternyata memandang sesuatu dengan cara yang tidak jauh berbeda dari kita.

Sesekali, kita memang datang ke media sosial untuk melihat sebuah konten. Namun, kita bertahan lebih lama karena ingin mengetahui bagaimana manusia lain memandang konten yang sama. Sebab, di balik layar ponsel dan tumpukan komentar yang terus bergerak, manusia tetaplah makhluk sosial yang senang merasa terhubung dengan pikiran dan perasaan orang lain. [][Eva Evilia/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.