Perkembangan teknologi kecerdasan buatan mulai masuk ke banyak aspek kehidupan, termasuk industri kecantikan. Dalam sebuah ajang internasional yang akan digelar dalam waktu dekat, pendekatan baru terhadap kosmetik personal mulai diperkenalkan—bukan sekadar tren, tapi arah baru dalam memahami kebutuhan kulit secara lebih spesifik.
Indonesia Cosmetic Ingredients [ICI] 2026 akan berlangsung pada 6–8 Mei 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta. Ajang ini menjadi salah satu pameran industri kosmetik terbesar di Indonesia yang mempertemukan pelaku industri, akademisi, hingga inovator teknologi.
Dalam gelaran tersebut, kolaborasi antara Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran dan Labcos menghadirkan pendekatan berbasis AI yang mengarah pada personalisasi produk kosmetik. Namun, yang menarik bukan hanya teknologinya, melainkan bagaimana pendekatan ini mengubah cara kita melihat perawatan kulit itu sendiri.
Alih-alih mengandalkan klaim umum atau tren pasar, sistem berbasis AI memungkinkan analisis yang lebih terukur terhadap kondisi kulit individu. Ini menjadi langkah awal menuju pendekatan yang lebih personal dan berbasis data.
Baca Juga: Produk yang Kita Pakai: Kebutuhan atau Kebiasaan?
Dari Tren ke Kebutuhan Nyata
Selama ini, banyak produk kecantikan dipasarkan dengan pendekatan yang seragam. Satu jenis kulit sering disederhanakan menjadi kategori tertentu, lalu diberikan solusi yang sama untuk banyak orang. Padahal, kondisi kulit bisa sangat berbeda, bahkan dalam kategori yang sama.
Pendekatan berbasis AI yang diperkenalkan oleh tim Fakultas Farmasi Unpad—yang melibatkan peneliti seperti apt. Yokaniza Rindiantika N.—mencoba menjembatani celah ini. Melalui aplikasi berbasis face scanning, sistem dapat mengidentifikasi kondisi kulit seperti hidrasi, pigmentasi, hingga tanda penuaan dini.
Dari analisis tersebut, pengguna akan mendapatkan rekomendasi yang lebih spesifik, mulai dari rutinitas perawatan hingga pemilihan produk yang sesuai. Ini menjadi pendekatan yang berbeda dibandingkan metode konvensional yang cenderung generik.
Menurut Prof. Dr. Apt. Sriwidodo, M.Si., partisipasi dalam ICI menjadi bagian dari upaya untuk mendekatkan dunia akademik dengan kebutuhan industri. Sementara itu, Dr. Apt. Soraya Ratnawulan Mita, M.Si. menekankan bahwa inovasi yang ditampilkan merupakan bagian dari kolaborasi riset yang melibatkan berbagai jenjang pendidikan dan mitra industri.
Dalam konteks ini, teknologi tidak hanya menjadi alat bantu, tapi juga membuka cara pandang baru. Bahwa perawatan kulit tidak harus selalu mengikuti tren, tapi bisa disesuaikan dengan kebutuhan yang lebih personal.
Pendekatan ini juga menunjukkan bagaimana teknologi mulai mengambil peran dalam membantu keputusan sehari-hari. Bukan menggantikan sepenuhnya, tapi memberi perspektif tambahan yang sebelumnya tidak tersedia.
Baca Juga: Skincare Mahal Terlihat Lebih ‘Ngaruh’? Kita Yakin atau Terpengaruh?
Ketika Teknologi Masuk ke Ruang Personal
Masuknya AI ke dalam dunia kosmetik juga membawa pertanyaan baru. Sejauh mana teknologi bisa memahami kondisi manusia yang kompleks? Dan bagaimana pengguna menyikapi rekomendasi yang diberikan oleh sistem?
Dalam sesi seminar universitas di ICI 2026, Prof. Dr. rer. nat. Apt. Anis Yohana Chaerunisa, M.Si. akan membahas eksplorasi bahan baku untuk nanokosmetika berbasis kearifan lokal. Ini menunjukkan bahwa inovasi tidak hanya terjadi di sisi teknologi digital, tapi juga pada pengembangan bahan dan formulasi.
Di satu sisi, teknologi menawarkan efisiensi dan akurasi. Di sisi lain, tetap ada ruang bagi manusia untuk mempertimbangkan pengalaman, preferensi, dan kenyamanan pribadi.
Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa masa depan industri kecantikan tidak hanya tentang produk, tapi juga tentang sistem yang mendukungnya. Sistem yang mampu membaca data, menganalisis, dan memberikan rekomendasi yang lebih terarah. Bagi pengguna, ini bisa menjadi peluang untuk memahami diri sendiri dengan cara yang berbeda. Bukan hanya mencoba berbagai produk, tapi mulai melihat apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Perkembangan ini juga menjadi sinyal bahwa batas antara teknologi dan kehidupan sehari-hari semakin tipis. Apa yang dulu terasa jauh, kini mulai hadir dalam keputusan-keputusan kecil, termasuk dalam merawat diri. Dengan pendekatan seperti ini, industri kecantikan perlahan bergerak dari sekadar menawarkan solusi, menjadi sistem yang membantu memahami kebutuhan. [][Eva Evilia/PR/KK]