Setiap kali Piala Dunia digelar, perhatian publik biasanya tertuju pada stadion, pemain bintang, atau negara-negara yang dijagokan menjadi juara. Namun ada satu elemen lain yang hampir selalu hadir dan diam-diam ikut membentuk identitas sebuah turnamen: maskot. Bagi sebagian orang, maskot mungkin hanya dianggap sebagai boneka lucu yang muncul di poster, kaus, atau suvenir resmi. Padahal di balik bentuknya yang sederhana, maskot sering menjadi cara sebuah negara memperkenalkan dirinya kepada dunia.

Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memperkenalkan tiga maskot sekaligus: Maple, Zayu, dan Clutch. Kehadiran mereka cukup menarik karena berbeda dari tradisi sebelumnya yang biasanya hanya menghadirkan satu maskot utama.

Namun kemunculan ketiganya juga memunculkan pertanyaan lain. Di tengah era media sosial, video game, dan pemasaran digital yang semakin agresif, apakah maskot masih berfungsi sebagai simbol budaya seperti dahulu, atau kini lebih dekat sebagai karakter yang dirancang untuk kebutuhan promosi global?

Baca Juga: Mengapa Lolos ke Piala Dunia Kadang Terasa Seperti Menjadi Juara?

Ketika Seekor Singa Bernama Willie Mengubah Segalanya


Tradisi maskot Piala Dunia dimulai pada tahun 1966 di Inggris melalui sosok World Cup Willie. Bentuknya sederhana: seekor singa kartun yang mengenakan kaus bergambar bendera Union Jack. Meski terlihat biasa jika dibandingkan desain modern saat ini, Willie dianggap sebagai salah satu maskot olahraga paling berpengaruh dalam sejarah. Untuk pertama kalinya, sebuah turnamen olahraga besar memiliki karakter yang dapat dikenali oleh anak-anak maupun orang dewasa.

Setelah itu, setiap tuan rumah mencoba menghadirkan simbol yang mewakili identitas mereka masing-masing.

Pada Piala Dunia 1982 di Spanyol, muncul Naranjito, sebuah jeruk berwajah manusia yang mengenakan seragam tim nasional Spanyol. Bentuknya sempat dianggap aneh karena publik lebih terbiasa melihat maskot berbentuk hewan. Namun jeruk dipilih karena merupakan salah satu hasil pertanian yang identik dengan Spanyol.

Prancis menghadirkan Footix pada tahun 1998, seekor ayam jantan berwarna biru dengan jambul merah yang terinspirasi dari simbol nasional Prancis. Sementara Afrika Selatan memperkenalkan Zakumi pada tahun 2010, seekor macan tutul dengan rambut hijau mencolok yang memadukan warna khas negara tuan rumah dan semangat benua Afrika.

Piala Dunia Qatar 2022 bahkan melangkah lebih jauh dengan menghadirkan La'eeb, karakter yang tidak berbentuk hewan maupun manusia. Ia tampil menyerupai kain penutup kepala tradisional Arab yang melayang di udara, mencerminkan budaya Timur Tengah dalam bentuk yang lebih abstrak.

Dari satu edisi ke edisi berikutnya, maskot tidak hanya berfungsi sebagai alat pemasaran. Ia menjadi cara sebuah negara memperkenalkan cerita, simbol, dan identitasnya kepada jutaan orang yang mungkin belum pernah menginjakkan kaki di negara tersebut.

Baca Juga: Ketika Semua Orang Mendadak Ingin Jadi Pengamat Sepak Bola

Maple, Zayu, dan Clutch Datang dari Dunia yang Berbeda

Piala Dunia 2026 menghadirkan pendekatan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Karena turnamen ini diselenggarakan oleh tiga negara sekaligus, FIFA memperkenalkan tiga maskot yang mewakili masing-masing tuan rumah.

Maple adalah seekor moose atau rusa besar khas Amerika Utara yang mengenakan kostum merah Kanada. Tubuhnya besar dengan tanduk lebar yang menjadi ciri khas hewan tersebut.

Zayu tampil sebagai jaguar dengan kostum hijau yang mewakili Meksiko. Jaguar sendiri memiliki hubungan yang kuat dengan sejarah dan budaya masyarakat Mesoamerika, termasuk peradaban Maya dan Aztek.

Sementara itu Clutch hadir sebagai elang botak dengan seragam biru, simbol yang selama puluhan tahun identik dengan Amerika Serikat. Burung ini bahkan menjadi lambang resmi negara tersebut sejak abad ke-18.

Ketiganya tampak dirancang untuk hidup di berbagai platform sekaligus. Mereka tidak hanya muncul di stadion atau materi promosi resmi, tetapi juga di media sosial, animasi digital, permainan interaktif, dan berbagai produk komersial yang menyertai turnamen.

Di sinilah wajah maskot Piala Dunia mulai berubah. Jika dahulu maskot berfungsi terutama sebagai simbol budaya, kini mereka juga harus mampu hidup di dunia digital yang bergerak jauh lebih cepat. Mereka harus mudah dikenali dalam ukuran kecil di layar ponsel, menarik bagi generasi muda, dan cukup fleksibel untuk digunakan dalam berbagai bentuk konten.

Perubahan itu tidak selalu buruk. Dunia memang berubah, dan cara orang berinteraksi dengan sebuah turnamen olahraga juga ikut berubah. Namun ada satu hal yang tetap bertahan sejak era World Cup Willie hingga Maple, Zayu, dan Clutch hari ini.

Maskot bukan sekadar boneka promosi. Mereka adalah wajah yang dipilih sebuah negara untuk menyapa dunia. Dan ketika jutaan orang mengingat sebuah Piala Dunia, sering kali yang tersisa bukan hanya gol-gol indah atau pertandingan dramatis, melainkan juga karakter kecil yang diam-diam menjadi bagian dari kenangan kolektif sebuah generasi. [][Adrian Damar/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.