Banyak orang baru memiliki waktu berolahraga setelah matahari terbenam. Sayangnya, tidak sedikit yang masih ragu karena mengira olahraga malam selalu membuat tubuh sulit beristirahat.

Rutinitas kerja, kemacetan, hingga kesibukan mengurus keluarga membuat pagi bukan lagi waktu yang mudah untuk berolahraga. Ketika malam tiba, barulah ada kesempatan untuk berjalan kaki, berlari ringan, bersepeda, atau pergi ke pusat kebugaran. Namun, muncul pertanyaan yang terus berulang. Benarkah olahraga malam tidak baik bagi tubuh?

Anggapan tersebut sudah lama beredar. Ada yang percaya olahraga malam dapat memicu insomnia, membuat jantung bekerja terlalu keras, atau mengganggu proses pemulihan tubuh. Padahal, penelitian beberapa tahun terakhir menunjukkan gambaran yang lebih utuh. Yang lebih menentukan bukan semata-mata waktu berolahraganya, melainkan jenis latihan, intensitas, dan jarak waktunya dengan jam tidur.

Tubuh manusia memang mengikuti ritme sirkadian, yaitu jam biologis yang mengatur berbagai fungsi tubuh selama 24 jam. Menjelang malam, tubuh mulai mempersiapkan diri untuk beristirahat. Namun, proses itu tidak berarti tubuh langsung kehilangan kemampuan untuk bergerak atau beradaptasi terhadap aktivitas fisik.

Baca Juga: Yang Bertanding Orang Lain, Kok Kita yang Ikut Panik?

Tubuh Masih Mampu Beradaptasi pada Malam Hari

Prof. Phyllis C. Zee, pakar neurologi dan spesialis tidur dari Northwestern University Feinberg School of Medicine, menjelaskan bahwa hubungan antara olahraga dan tidur dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk intensitas latihan serta waktu seseorang biasanya tidur. Tubuh memiliki kemampuan beradaptasi yang baik selama aktivitas fisik tidak dilakukan secara berlebihan terlalu dekat dengan waktu tidur.

Hal serupa juga terlihat dalam sejumlah penelitian yang dipublikasikan di Sleep Medicine Reviews. Latihan dengan intensitas ringan hingga sedang pada malam hari umumnya tidak menurunkan kualitas tidur bagi kebanyakan orang. Bahkan, pada sebagian individu, olahraga justru membantu tubuh merasa lebih rileks sehingga proses tidur menjadi lebih baik.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Ketika berolahraga, suhu inti tubuh memang meningkat. Setelah aktivitas selesai, suhu tersebut perlahan menurun. Penurunan inilah yang menjadi salah satu sinyal alami bagi tubuh untuk memasuki fase istirahat. Selama tubuh memiliki waktu yang cukup untuk kembali tenang sebelum tidur, proses tersebut biasanya tidak menjadi masalah.

Sebaliknya, latihan yang sangat berat dan selesai hanya beberapa menit sebelum tidur dapat membuat sebagian orang tetap berada dalam kondisi sangat waspada. Denyut jantung masih tinggi, hormon adrenalin belum sepenuhnya menurun, dan tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk memasuki fase rileks. Kondisi inilah yang sering membuat orang menyimpulkan bahwa olahraga malam selalu buruk, padahal yang kurang tepat adalah pengaturan waktunya.

Baca Juga: Beberapa Orang Semangat Berolahraga, Lalu Berhenti Beberapa Minggu Kemudian, Mengapa?

Memilih Cara yang Tepat Lebih Penting daripada Memilih Jamnya

Bagi mereka yang hanya memiliki waktu luang pada malam hari, tidak ada alasan untuk langsung mengurungkan niat berolahraga. American College of Sports Medicine menjelaskan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin jauh lebih penting bagi kesehatan dibanding terus menunda olahraga karena menunggu waktu yang dianggap ideal.

Pilihan aktivitas pun dapat disesuaikan dengan kondisi tubuh. Jalan cepat, jogging ringan, bersepeda santai, latihan kekuatan dengan intensitas sedang, yoga, atau peregangan menjadi pilihan yang relatif nyaman dilakukan pada malam hari. Jika ingin melakukan latihan yang lebih berat, sebaiknya berikan jeda sekitar satu hingga dua jam sebelum waktu tidur agar tubuh memiliki kesempatan menurunkan kembali aktivitas fisiologisnya.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah mengenali respons tubuh sendiri. Ada orang yang tetap dapat tidur nyenyak setelah berlari pada malam hari. Ada pula yang merasa lebih nyaman memilih latihan yang lebih ringan. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari kemampuan adaptasi tubuh setiap individu, sehingga tidak semua orang akan memberikan respons yang sama.

Sering kali kita terlalu sibuk mencari waktu yang paling sempurna untuk berolahraga. Padahal, tubuh tidak selalu menuntut kesempurnaan. Ia lebih membutuhkan konsistensi. Berjalan kaki selama tiga puluh menit setiap malam secara rutin dapat memberikan manfaat yang jauh lebih besar dibanding memiliki rencana olahraga yang ideal, tetapi terus tertunda.

Olahraga malam bukanlah musuh bagi kesehatan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita memperlakukan tubuh setelah seharian bekerja. Memberinya aktivitas yang sesuai, intensitas yang tepat, dan waktu yang cukup untuk kembali tenang merupakan cara terbaik agar tubuh tetap bugar tanpa mengorbankan kualitas istirahat.

Mungkin selama ini kita terlalu fokus pada pertanyaan kapan waktu terbaik untuk berolahraga. Padahal, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kita sudah menemukan cara berolahraga yang mampu dijalani secara konsisten. Sebab, tubuh lebih menyukai kebiasaan baik yang dilakukan terus-menerus daripada niat baik yang hanya datang sesekali. [][Adrian Damar/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.