Menit-menit akhir pertandingan seringkali menghadirkan pemandangan yang menarik. Ada yang berdiri di depan televisi karena terlalu tegang untuk tetap duduk.
Ada yang menutup mata saat adu penalti dimulai. Ada pula yang mondar-mandir di ruang tamu sambil sesekali mengeluh atau berteriak. Jantung berdebar, telapak tangan berkeringat, dan suasana hati ikut naik turun. Padahal, yang sedang bertanding adalah orang lain. Kita hanya menonton.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada penggemar sepak bola. Penggemar bulu tangkis, basket, balap, atau olahraga lainnya juga sering mengalami hal serupa. Kita ikut merasa senang ketika atlet atau tim favorit menang dan ikut kecewa ketika mereka kalah.
Sekilas, reaksi seperti ini terasa berlebihan. Namun, dari sudut pandang psikologi, apa yang terjadi sebenarnya cukup masuk akal.
Baca Juga: Beberapa Orang Semangat Berolahraga, Lalu Berhenti Beberapa Minggu Kemudian, Mengapa?
Kita Tidak Sekadar Menonton, tetapi Ikut Terlibat Secara Emosional
Olahraga memiliki kemampuan yang unik. Ia membuat penonton merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Ketika mendukung sebuah tim atau atlet, kita perlahan membangun keterikatan emosional.
Psikolog olahraga dari Murray State University, Dr. Daniel Wann, yang banyak meneliti perilaku penggemar olahraga, menjelaskan bahwa pendukung sebuah tim dapat membentuk ikatan psikologis yang kuat dengan tim yang didukungnya. Ikatan itu membuat emosi penonton ikut bergerak mengikuti jalannya pertandingan.
Karena merasa terhubung, kemenangan tim terasa seperti kemenangan pribadi. Sebaliknya, kekalahan juga dapat menghadirkan rasa kecewa yang nyata.
Dalam kondisi tertentu, otak kita tidak sepenuhnya memisahkan diri dari tim yang sedang didukung. Kita seolah ikut berada di dalam pertandingan. Karena itu, ketika peluang emas terbuang atau lawan hampir mencetak angka, tubuh ikut memberikan respons.
Jantung berdebar lebih cepat, otot menegang, dan perhatian menjadi sangat terpusat. Semua itu merupakan respons alami ketika seseorang merasa sedang menghadapi situasi yang penting.
Baca Juga: Saat Piala Dunia Hadir di Tengah Dunia yang Sedang Tidak Baik-Baik Saja
Olahraga Memberi Kita Pengalaman Merasakan Banyak Emosi Sekaligus
Kehidupan sehari-hari sering berjalan dalam ritme yang cenderung datar. Banyak pekerjaan dilakukan secara rutin dan banyak keputusan harus diambil secara rasional. Olahraga menghadirkan sesuatu yang berbeda.
Dalam satu pertandingan, kita bisa merasakan harapan, kecemasan, kegembiraan, frustrasi, dan kelegaan secara bergantian. Ada ketidakpastian yang membuat setiap momen terasa hidup.
Ketika pertandingan berlangsung ketat, kita tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa detik kemudian. Ketidakpastian inilah yang membuat emosi menjadi lebih intens.
Menariknya, semua perasaan tersebut dialami dalam situasi yang relatif aman. Kita bisa ikut panik, ikut tegang, bahkan ikut kesal tanpa benar-benar menghadapi risiko fisik apa pun. Bagi banyak orang, pengalaman emosional seperti ini justru menjadi bagian yang menyenangkan dari menonton olahraga.
Mungkin karena itulah pertandingan olahraga mampu menghadirkan jutaan penonton yang rela meluangkan waktu berjam-jam di depan layar. Mereka tidak hanya datang untuk melihat skor akhir atau mengetahui siapa yang menang.
Mereka datang untuk merasakan sesuatu. Mereka ingin ikut berharap ketika pertandingan dimulai, ikut cemas ketika situasi berubah, dan ikut bersorak ketika momen yang ditunggu akhirnya tiba.
Jadi, jika suatu hari Anda mendapati diri sendiri ikut panik saat menonton pertandingan, tidak perlu merasa aneh. Manusia memang memiliki kemampuan untuk membangun ikatan emosional yang kuat, bahkan terhadap orang-orang yang tidak dikenalnya secara pribadi.
Dan mungkin, justru di situlah salah satu daya tarik terbesar olahraga berada. Yang bertanding memang orang lain. Namun, selama pertandingan berlangsung, sebagian kecil dari diri kita merasa ikut bermain di dalamnya. [][Adrian Damar/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.