Piala Dunia 2026 dimulai hari ini. Namun entah mengapa, gaungnya belum terasa sebesar beberapa perhelatan akbar sebelumnya.
Selama puluhan tahun, Piala Dunia selalu menjadi peristiwa yang mampu menghentikan sejenak berbagai perbedaan. Orang yang biasanya tidak mengikuti sepak bola ikut membicarakan pertandingan. Bendera negara-negara peserta mulai bermunculan. Prediksi juara beredar di mana-mana. Bahkan mereka yang tidak hafal aturan offside pun mendadak tertarik mengikuti jalannya turnamen.
Tahun ini suasananya terasa sedikit berbeda. Piala Dunia memang tetap menjadi ajang olahraga terbesar di muka bumi. Jutaan orang masih akan menonton dan mendukung tim favorit mereka. Namun jika dibandingkan dengan beberapa edisi sebelumnya, banyak orang merasa euforia yang biasanya muncul jauh-jauh hari belum benar-benar terasa.
Barangkali penyebabnya bukan sepak bolanya. Barangkali yang berubah adalah dunia di sekelilingnya.
Baca Juga: Maskot Piala Dunia yang Bukan Lagi Sekadar Boneka Promosi
Dunia Sedang Menanggung Terlalu Banyak Kekhawatiran
Dalam beberapa tahun terakhir, dunia seolah tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk bernapas panjang. Pandemi COVID-19 meninggalkan luka sosial dan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Konflik Rusia-Ukraina masih berlangsung. Perang di Gaza terus memunculkan korban dan ketidakpastian. Ketegangan antara Iran dan Israel dalam beberapa waktu terakhir kembali menambah kecemasan banyak pihak.
Di berbagai negara, masyarakat juga menghadapi persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Harga kebutuhan pokok meningkat. Biaya hidup terasa semakin berat. Ketidakpastian ekonomi membuat banyak orang lebih sibuk memikirkan bagaimana menjalani hari esok dibandingkan membahas siapa yang akan mengangkat trofi beberapa minggu lagi.
Bukan berarti sepak bola kehilangan daya tariknya. Namun, perhatian manusia memiliki batas. Ketika ruang pikiran dipenuhi berbagai kekhawatiran, antusiasme terhadap sebuah peristiwa besar sering tidak muncul sekuat biasanya. Kita tetap menunggu Piala Dunia, tetapi dunia yang menyambutnya tidak berada dalam suasana yang sama seperti dahulu.
Mungkin itulah sebabnya gaung turnamen kali ini terasa lebih tenang. Bukan karena orang tidak peduli, melainkan karena terlalu banyak hal lain yang sedang meminta perhatian mereka pada saat yang bersamaan.
Baca Juga: Mengapa Lolos ke Piala Dunia Kadang Terasa Seperti Menjadi Juara?
Piala Dunia Bukan Lagi Satu-Satunya Pusat Perhatian
Ada alasan lain yang mungkin tidak kalah penting. Dunia hiburan dan informasi hari ini jauh berbeda dibandingkan dua atau tiga dekade lalu.
Dulu, Piala Dunia hadir sebagai salah satu sedikit peristiwa global yang benar-benar mampu menyatukan perhatian publik dunia. Pilihan hiburan masih terbatas. Arus informasi tidak bergerak secepat sekarang. Ketika turnamen dimulai, hampir semua mata tertuju ke tempat yang sama.
Hari ini situasinya berbeda. Dalam satu hari, seseorang bisa berpindah dari pertandingan sepak bola ke serial televisi, media sosial, video pendek, siaran langsung, podcast, hingga berbagai bentuk hiburan lain yang tidak pernah berhenti diproduksi. Perhatian manusia tersebar ke begitu banyak arah. Piala Dunia tetap besar, tetapi ia tidak lagi berdiri sendirian di puncak panggung global.
Di sisi lain, sepak bola kini hadir hampir sepanjang tahun. Liga-liga top Eropa disiarkan setiap pekan. Liga Champions menjadi tontonan rutin. Turnamen internasional datang silih berganti. Kelimpahan pertandingan membuat rasa menunggu yang dulu menjadi bagian dari keistimewaan Piala Dunia perlahan berubah.
Meski demikian, sejarah menunjukkan bahwa Piala Dunia memiliki kemampuan yang sulit dijelaskan oleh angka atau statistik. Turnamen ini selalu menemukan caranya sendiri untuk menghidupkan emosi jutaan orang. Sebuah gol di menit terakhir, kisah negara kecil yang mengejutkan dunia, atau perjalanan tim yang tidak diunggulkan sering kali mampu mengubah suasana hanya dalam beberapa hari.
Mungkin itulah yang akan terjadi lagi tahun ini. Dunia memang sedang tidak baik-baik saja. Perhatian manusia memang lebih terpecah daripada sebelumnya. Namun ketika peluit pertama dibunyikan dan pertandingan benar-benar dimulai, ada kemungkinan miliaran orang kembali menemukan alasan yang sama untuk berhenti sejenak dari segala kegelisahan mereka. Di zaman yang penuh ketidakpastian seperti sekarang, itulah salah satu hal yang masih membuat Piala Dunia terasa istimewa. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.