Ada laki-laki yang tetap bekerja meski tubuh sudah terasa tidak enak. Sakit kepala dianggap kurang tidur, nyeri punggung dianggap terlalu lama duduk, mudah lelah dianggap karena pekerjaan sedang banyak, sementara pemeriksaan kesehatan terus ditunda. Sampai suatu ketika, keluhan yang semula dianggap sepele mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Ada kebiasaan yang cukup mudah ditemukan dalam kehidupan banyak laki-laki: tubuh diminta terus bekerja selama masih sanggup. Demam sedikit tetap masuk kantor. Pinggang terasa nyeri masih dibawa mengemudi. Mudah lelah dianggap sesuatu yang wajar karena usia atau pekerjaan. Bahkan ketika ada keluhan yang berulang, sebagian orang memilih menunggu sampai tubuh benar-benar tidak bisa diajak berkompromi sebelum mencari pertolongan.
Masalahnya, tubuh tidak selalu memberikan peringatan dalam bentuk rasa sakit yang hebat. Beberapa kondisi kesehatan justru dapat berkembang perlahan dan memberikan tanda yang samar. Perubahan tekanan darah, kadar gula, kolesterol, atau kondisi metabolik tertentu, misalnya, tidak selalu membuat seseorang merasa sedang sakit.
Inilah salah satu alasan pemeriksaan kesehatan tetap penting, termasuk ketika seseorang merasa baik-baik saja.
Baca Juga: Laki-Laki Tidak Selalu Sulit Bercerita. Kadang Mereka Tidak Tahu Harus Mulai dari Mana.
Merasa Sehat Tidak Selalu Berarti Tidak Ada Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari, rasa sehat sering diukur secara sederhana: masih bisa bekerja, masih bisa beraktivitas, masih kuat berolahraga, dan tidak sedang merasakan sakit yang berat. Ukuran tersebut memang penting, tetapi belum cukup untuk menggambarkan kondisi kesehatan secara menyeluruh.
Organisasi Kesehatan Dunia [WHO] menjelaskan bahwa banyak penyakit tidak menular berkembang secara perlahan dan dapat berlangsung tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Hipertensi, misalnya, sering disebut sebagai kondisi yang dapat tidak menimbulkan gejala sehingga seseorang tidak menyadari tekanan darahnya berada di atas batas normal.
Karena itu, menunggu tubuh memberikan sinyal yang keras bukan strategi kesehatan yang ideal. Pemeriksaan berkala dapat membantu menemukan perubahan tertentu sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Pada laki-laki, persoalan ini juga berkaitan dengan cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ada yang terbiasa melihat tubuh sebagai alat untuk bekerja dan menyelesaikan tanggung jawab. Selama tubuh masih mampu menjalankan tugas, keluhan yang muncul dianggap sebagai sesuatu yang bisa ditahan.
Padahal, kemampuan menahan rasa tidak nyaman bukan ukuran bahwa tubuh berada dalam kondisi baik.
Baca Juga: Banyak Laki-Laki Baru Merasa Lelah Setelah Semua Urusan Selesai. Kenapa Bisa Begitu?
Menunda Pemeriksaan Sering Terlihat Seperti Bentuk Ketangguhan
Ada alasan sosial dan psikologis yang membuat sebagian laki-laki enggan membicarakan kondisi tubuhnya. Mereka mungkin tidak ingin terlihat lemah, tidak ingin merepotkan keluarga, atau merasa masih terlalu muda untuk memikirkan masalah kesehatan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Health and Social Behavior juga menunjukkan bahwa norma maskulinitas tertentu dapat memengaruhi perilaku laki-laki dalam mencari bantuan kesehatan. Gagasan mengenai kemandirian, ketangguhan, dan kemampuan mengatasi masalah sendiri dapat membuat sebagian laki-laki lebih enggan meminta bantuan ketika menghadapi persoalan kesehatan.
Namun, mencari pertolongan bukan berarti kehilangan kemandirian. Justru, mengetahui kondisi tubuh sendiri memungkinkan seseorang membuat keputusan yang lebih baik. Pemeriksaan kesehatan bukan pengakuan bahwa seseorang sedang sakit. Dalam banyak kasus, pemeriksaan justru dilakukan untuk memastikan bahwa semuanya masih berada dalam kondisi yang baik.
Hal yang sama berlaku untuk keluhan yang tampaknya sederhana. Jika sakit kepala muncul berulang, tidur terus terganggu, berat badan berubah tanpa direncanakan, napas terasa lebih pendek saat melakukan aktivitas yang biasanya ringan, atau tubuh terasa jauh lebih lelah dibandingkan sebelumnya, keluhan tersebut layak diperhatikan.
Tentu saja, satu gejala tidak otomatis menunjukkan penyakit tertentu. Banyak kondisi memiliki gejala yang mirip dan hanya tenaga kesehatan yang dapat menentukan penyebabnya melalui wawancara, pemeriksaan fisik, atau pemeriksaan penunjang jika diperlukan.
Baca Juga: Kesepian Tidak Selalu Terlihat, Banyak Pria Mengalaminya Tanpa Pernah Mengatakannya
Menjaga Tubuh Tidak Harus Menunggu Sampai Tubuh Memaksa
Merawat kesehatan laki-laki sebenarnya tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Tidur yang cukup, aktivitas fisik teratur, pola makan seimbang, tidak merokok, membatasi konsumsi alkohol, mengelola stres, serta melakukan pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan merupakan bagian dari upaya menjaga tubuh dalam jangka panjang.
Yang sering menjadi persoalan bukan ketidaktahuan tentang semua hal tersebut, melainkan kebiasaan menundanya.
"Nanti kalau sudah sempat."
"Nanti kalau sakitnya semakin parah."
"Nanti kalau pekerjaan sedang tidak banyak."
Kalimat-kalimat seperti itu terdengar masuk akal ketika diucapkan sekali. Namun, jika terus diulang, pemeriksaan kesehatan dapat selalu berada di urutan paling belakang.
Mungkin sudah waktunya mengubah cara memandang kesehatan. Tubuh bukan mesin yang harus digunakan sampai rusak baru kemudian diperbaiki. Ia adalah bagian dari diri yang menemani seseorang bekerja, mengurus keluarga, mengejar cita-cita, menikmati perjalanan, dan menjalani berbagai hal yang dianggap penting.
Karena itu, memperhatikan tubuh sebelum muncul masalah besar bukan bentuk kekhawatiran berlebihan. Justru, itulah salah satu bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Laki-laki tidak harus menunggu tubuhnya benar-benar menyerah untuk mengakui bahwa tubuh juga membutuhkan perhatian. Kadang, keputusan paling masuk akal bukan memaksa diri untuk terus kuat, melainkan berhenti sebentar, mendengarkan sinyal yang muncul, dan memastikan bahwa tubuh masih berada dalam kondisi yang baik. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.