Seorang anak lahir, lalu seorang laki-laki mendapat sebutan baru: ayah. Bersamaan dengan itu, banyak bagian kehidupannya ikut berubah tanpa selalu sempat dibicarakan.
Sebelum mempunyai anak, pulang terlambat mungkin hanya berarti makan malam ikut terlambat. Setelah menjadi ayah, keputusan sederhana bisa mempunyai konsekuensi berbeda karena ada seseorang yang menunggu di rumah. Waktu, uang, pekerjaan, hubungan dengan pasangan, bahkan rencana akhir pekan mulai dipikirkan melalui pertimbangan yang baru.
Perubahan semacam ini sering dianggap sebagai sesuatu yang otomatis akan dipahami laki-laki begitu anak lahir. Ayah diharapkan bekerja, membantu pasangan, menjaga keluarga, belajar menggendong bayi, dan tetap terlihat mampu mengendalikan keadaan. Di tengah semua tuntutan itu, jarang ada pertanyaan sederhana tentang bagaimana ia sendiri sedang menyesuaikan diri.
Padahal menjadi ayah bukan sekadar memperoleh tanggung jawab tambahan. Sebuah tinjauan sistematis terhadap pengalaman ayah pertama kali menemukan pembentukan identitas baru sebagai salah satu bagian penting dalam transisi tersebut. Prioritas berubah, tanggung jawab bertambah, dan banyak laki-laki mulai mempertanyakan apakah mereka mampu menjadi ayah yang cukup baik.
Baca Juga: Kenapa Banyak Pria Lebih Nyaman Bertemu Teman Sambil Melakukan Sesuatu daripada Sekadar Mengobrol?
Ada Identitas Baru yang Sedang Dibangun
Kita sering membayangkan perubahan besar setelah kelahiran terutama melalui apa yang terlihat. Jam tidur berantakan, rumah dipenuhi perlengkapan bayi, pengeluaran bertambah, dan agenda sehari-hari berubah. Namun pada laki-laki, ada perubahan lain yang berlangsung lebih senyap: cara memandang dirinya sendiri.
Lucia Genesoni dan Maria Anna Tallandini, yang menelaah penelitian mengenai transisi psikologis laki-laki menuju peran ayah, menemukan bahwa proses tersebut melibatkan reorganisasi diri sejak masa kehamilan hingga tahun pertama setelah kelahiran. Periode setelah kelahiran bahkan menjadi fase yang menantang secara interpersonal dan intrapersonal karena laki-laki harus beradaptasi dengan realitas baru sebagai ayah.
Artinya, seorang laki-laki tidak otomatis mempunyai seluruh identitas seorang ayah ketika anaknya lahir. Ia mempelajarinya melalui pengalaman sehari-hari: pertama kali menenangkan bayi yang menangis, mengganti popok, membawa anak ke dokter, menahan kantuk ketika harus bekerja pagi, sampai menyadari bahwa sebagian keputusan sekarang tidak lagi hanya menyangkut dirinya. Peran itu tumbuh bersama keterlibatannya.
Tinjauan sistematis yang lebih baru mengenai tahun pertama menjadi ayah menemukan proses serupa. Para ayah mengambil berbagai peran sebagai pelindung, pencari nafkah, dan pengasuh, sekaligus menyesuaikan prioritas kehidupan mereka. Seiring bertambahnya pengalaman, kepercayaan diri dalam menjalankan peran sebagai ayah juga cenderung berkembang.
Di sinilah gambaran tentang ayah sebagai seseorang yang hanya bertugas menyediakan kebutuhan ekonomi terasa terlalu sempit. Banyak laki-laki ingin hadir dalam kehidupan anak sekaligus tetap memenuhi tuntutan pekerjaan dan kebutuhan keluarga. Dua keinginan tersebut dapat berjalan bersama, tetapi tidak berarti selalu mudah diseimbangkan.
Penelitian terhadap pengalaman ayah baru menemukan kekhawatiran tentang kehilangan momen bersama anak karena pekerjaan, sekaligus tekanan untuk mampu menjadi penyedia kebutuhan keluarga. Ada pula keinginan untuk menjadi ayah yang lebih terlibat dibandingkan generasi sebelumnya. Standar tentang ‘ayah yang baik’ dengan demikian dapat datang dari banyak arah sekaligus.
Baca Juga: Mengapa Banyak Persahabatan Laki-Laki Tak Dihiasi Banyak Bicara, tetapi Tetap Bertahan Lama?
Semua Orang Bertanya tentang Bayi, Tidak Banyak yang Bertanya tentang Ayah
Setelah seorang anak lahir, perhatian tentu tertuju kepada bayi dan ibu yang baru melalui kehamilan serta persalinan. Kebutuhan keduanya memang sangat besar dan tidak seharusnya dikurangi. Namun perhatian terhadap mereka tidak berarti pengalaman ayah harus dianggap tidak ada.
Tinjauan Sharin Baldwin dan koleganya terhadap 22 penelitian menemukan bahwa sebagian ayah pertama kali mengalami stres, kelelahan, frustrasi, perubahan hubungan dengan pasangan, ketidakpastian terhadap perannya, serta kekhawatiran apakah mereka menjalankan peran tersebut dengan benar. Sebagian bahkan merasa kekhawatiran mereka tidak cukup penting untuk dibicarakan. Mereka juga melaporkan kurangnya informasi dan dukungan yang secara khusus ditujukan kepada ayah.
Kajian yang diterbitkan pada 2024 kembali menemukan persoalan serupa. Para peneliti dari Newcastle University menemukan bahwa transisi menjadi ayah dapat terasa sulit dan diperumit oleh ketidakpastian mengenai peran sebagai pasangan maupun ayah. Dukungan dan program masa kehamilan yang secara khusus mengakomodasi kebutuhan ayah juga dinilai masih terbatas dalam literatur yang mereka telaah.
Barangkali sebagian kesunyian itu berasal dari gambaran lama tentang apa yang seharusnya dilakukan seorang laki-laki ketika keluarga sedang membutuhkan banyak hal. Ia diharapkan menjadi orang yang membantu menyelesaikan masalah, bukan orang yang mempunyai masalah. Ketika lelah, bingung, takut, atau merasa belum siap, respons yang muncul bisa saja justru bekerja lebih keras atau menyimpan semuanya sendiri.
Namun, membicarakan perubahan pada ayah bukan berarti memindahkan pusat perhatian dari ibu. Keduanya mengalami transisi yang berbeda dan mempunyai kebutuhan yang tidak harus dipertandingkan. Mengakui pengalaman salah satunya tidak membuat pengalaman yang lain menjadi kurang penting.
Bahkan perubahan hubungan pasangan menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Waktu berdua berkurang, pembagian pekerjaan rumah berubah, tidur terganggu, dan percakapan mudah berpusat pada kebutuhan anak. Pasangan yang sebelumnya hanya belajar hidup sebagai dua orang sekarang juga harus belajar bekerja sebagai dua orang tua.
Menjadi ayah juga tidak selalu berarti kehilangan sesuatu. Penelitian menemukan banyak laki-laki menggambarkan kedekatan dengan anak sebagai pengalaman yang memberi penghargaan emosional, sementara keterlibatan dan proses beradaptasi membantu mereka semakin nyaman dengan identitas barunya. Perubahan itu dapat melelahkan sekaligus membawa rasa bermakna yang sebelumnya belum mereka kenal.
Mungkin itu sebabnya percakapan tentang ayah perlu bergerak sedikit lebih jauh dari pertanyaan apakah ia sudah menyediakan kebutuhan keluarga. Ada pertanyaan lain yang sama manusiawinya: apakah ia mempunyai ruang untuk belajar, apakah ia tahu bagaimana meminta bantuan, dan apakah ada orang yang bertanya bagaimana kehidupannya berubah sejak menjadi ayah.
Seorang anak memang tidak lahir sendirian ke dalam sebuah keluarga. Bersamaan dengan kelahirannya, ada seorang perempuan yang memasuki pengalaman menjadi ibu dan seorang laki-laki yang sedang belajar menjadi ayah. Kita sudah cukup terbiasa melihat perubahan pada yang pertama; mungkin sudah waktunya memberi ruang untuk memahami perubahan pada yang kedua. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.