Di kantor, ia mampu menghadapi tekanan. Keputusan sulit pun bisa diambilnya. Namun, ketika ditanya apa yang sedang dirasakan, ia justru kehabisan kata-kata.

Ada laki-laki yang terbiasa menghadapi persoalan besar sepanjang hari. Mereka memimpin rapat, menyelesaikan konflik, menghadapi pelanggan yang marah, atau mengambil keputusan ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana. Namun, ketika pulang dan pasangan bertanya mengapa wajahnya terlihat murung, jawaban yang keluar seringkali hanya, “Nggak apa-apa.”

Jawaban pendek itu dapat menimbulkan kebingungan. Orang yang terlihat begitu terampil berkomunikasi di tempat kerja ternyata kesulitan menjelaskan apa yang terjadi di dalam dirinya. Bagi orang terdekat, sikap tersebut bisa terasa seperti penolakan untuk berbagi, padahal persoalannya mungkin lebih rumit daripada sekadar keengganan berbicara.

Baca Juga: Semakin Dewasa, Mengapa Laki-Laki Semakin Sulit Menambah Teman Dekat?

Ketika Laki-Laki Lebih Terlatih Menyelesaikan Masalah daripada Mengenali Perasaan

Sejak kecil, sebagian laki-laki tumbuh dengan pesan bahwa ketangguhan merupakan kualitas yang harus ditunjukkan. Mereka didorong untuk berani, mandiri, tidak mudah menyerah, dan mampu mengendalikan keadaan. Sementara itu, kesempatan untuk membicarakan kesedihan, ketakutan, atau perasaan tidak berdaya belum tentu mendapatkan ruang yang sama.

Pesan semacam itu tidak selalu disampaikan secara langsung. Kadang ia hadir melalui komentar ketika seorang anak laki-laki menangis, cara keluarga merespons kegagalannya, atau tokoh laki-laki yang terus-menerus digambarkan kuat karena tidak memperlihatkan kelemahan. Lama-kelamaan, sebagian anak belajar bahwa emosi tertentu lebih aman disimpan daripada diungkapkan.

Peneliti psikologi perkembangan Niobe Way, melalui kajiannya tentang persahabatan anak laki-laki dan remaja, menunjukkan pentingnya kedekatan emosional dalam kehidupan mereka. Penelitiannya memperlihatkan bahwa banyak anak laki-laki sebenarnya mampu mengungkapkan kebutuhan akan hubungan yang akrab dan penuh kepercayaan. Namun, tekanan norma maskulinitas dapat membuat keterbukaan semacam itu semakin sulit dipertahankan ketika mereka bertambah dewasa.

Di tempat kerja, kemampuan menahan reaksi emosional terkadang dianggap sebagai bentuk profesionalisme. Seorang manajer mungkin harus tetap tenang ketika timnya melakukan kesalahan, sementara seorang pekerja lapangan perlu mengambil keputusan cepat dalam keadaan mendesak. Keterampilan tersebut berguna, tetapi tidak otomatis membuat seseorang terampil mengenali perasaannya sendiri.

Ada perbedaan antara mengendalikan tindakan dan memahami emosi. Seseorang bisa memilih tidak membentak ketika marah, tetapi belum tentu mengetahui apakah kemarahannya muncul karena kecewa, takut gagal, merasa tidak dihargai, atau kelelahan. Ketika perasaan-perasaan itu tidak terbiasa dikenali, menjelaskannya kepada pasangan dapat menjadi pekerjaan yang jauh lebih sulit daripada menyusun laporan kerja.

Kesulitan mengidentifikasi dan menggambarkan perasaan dalam psikologi dikenal melalui konsep alexithymia. Istilah tersebut menggambarkan karakteristik yang dapat muncul dalam tingkat berbeda pada setiap orang, bukan diagnosis yang bisa diberikan hanya karena seseorang pendiam. Laki-laki yang sulit berbicara tentang emosinya juga tidak otomatis mengalami alexithymia, sebab kebiasaan komunikasi, pengalaman hidup, dan situasi hubungan ikut berperan.

Baca Juga: Laki-Laki Juga Membutuhkan Validasi. Hanya Saja Bentuknya Sering Berbeda

Rumah Tidak Selalu Menjadi Tempat yang Mudah untuk Bercerita

Pulang ke rumah sering dibayangkan sebagai saat seseorang dapat melepaskan seluruh tekanan pekerjaan. Kenyataannya, perpindahan dari tuntutan profesional menuju hubungan pribadi tidak selalu berlangsung mulus. Ada orang yang membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran sebelum mampu terlibat dalam percakapan yang menuntut keterbukaan emosional.

Masalahnya muncul ketika kebutuhan untuk diam tidak pernah dijelaskan. Pasangan mungkin menganggap sikap tersebut sebagai ketidakpedulian, sedangkan laki-laki yang bersangkutan merasa dirinya sedang berusaha menghindari pertengkaran. Dua orang akhirnya dapat membaca situasi yang sama dengan makna yang berbeda.

Dalam hubungan dekat, pertanyaan sederhana seperti “Kamu kenapa?” juga bisa terasa lebih menantang daripada pertanyaan di ruang rapat. Di kantor, seseorang biasanya mengetahui persoalan yang harus dijawab dan hasil yang diharapkan. Di rumah, pertanyaan mengenai perasaan mengharuskannya menunjukkan sesuatu yang belum tentu ia pahami atau sanggup jelaskan.

Sebagian laki-laki juga terbiasa menganggap berbagi masalah sebagai tindakan yang membebani keluarga. Mereka memilih diam karena merasa harus menjadi pihak yang menenangkan, bukan pihak yang membutuhkan dukungan. Niat melindungi orang terdekat tersebut justru dapat menciptakan jarak ketika keheningan berlangsung terus-menerus.

Namun, memahami alasan seseorang sulit berbicara bukan berarti membenarkan setiap bentuk penarikan diri. Diam berhari-hari untuk menghukum pasangan, menolak seluruh percakapan penting, atau membiarkan orang lain terus menebak-nebak kebutuhan emosionalnya tetap dapat merusak hubungan. Kesulitan berkomunikasi perlu dipahami, tetapi tanggung jawab untuk memperbaikinya tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pasangan.

Perubahan dapat dimulai dari kalimat yang tidak terlalu rumit. Mengatakan “Aku sedang capek dan belum tahu bagaimana menjelaskannya” sudah memberikan informasi yang lebih jelas daripada terus menjawab “Nggak apa-apa.” Jika membutuhkan waktu sendiri, seseorang juga dapat menyampaikan kapan ia siap kembali berbicara.

Sebaliknya, orang terdekat dapat membantu dengan memberi kesempatan untuk bercerita tanpa langsung menghakimi atau menuntut jawaban lengkap. Tidak setiap percakapan harus segera menghasilkan solusi, terutama ketika seseorang masih berusaha memahami apa yang dirasakannya. Meski demikian, keterbukaan tetap membutuhkan kesediaan dari kedua pihak untuk mendengarkan dan menjelaskan kebutuhan masing-masing.

Kemampuan mengungkapkan emosi dapat dipelajari sebagaimana keterampilan lain yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Mengenali perasaan, membedakan kemarahan dari kekecewaan, dan meminta dukungan bukanlah tanda hilangnya ketangguhan. Justru keterampilan tersebut dapat membantu seseorang menghadapi persoalan tanpa harus menyembunyikan seluruh beban yang dibawanya.

Laki-laki yang terlihat kuat di tempat kerja mungkin memang memiliki kemampuan luar biasa dalam menghadapi tekanan. Namun, ketangguhan profesional tidak selalu mengajarkan cara membangun kedekatan emosional di rumah. Sebab keberanian menghadapi dunia luar dan keberanian memperlihatkan isi hati merupakan dua keterampilan yang berbeda, dan keduanya sama-sama perlu dipelajari. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.