Ada laki-laki yang bisa membongkar kipas angin hanya karena mendengar suara motornya sedikit aneh. Ia bisa menghabiskan satu sore mencari penyebab motor bergetar, mengganti kabel yang putus, atau mengutak-atik keran yang bocor sampai kembali berfungsi. Namun, ketika ditanya, "Kamu sebenarnya sedang kenapa?", jawabannya sering jauh lebih sederhana: "Enggak apa-apa."

Kalimat itu mungkin terdengar akrab. Bahkan terlalu akrab bagi orang-orang yang hidup bersama laki-laki dalam keluarga, pertemanan, atau hubungan romantis. Ada laki-laki yang sangat cekatan mencari sumber masalah pada benda, tetapi mendadak kehilangan manual ketika yang bermasalah adalah dirinya sendiri.

Barang rusak memiliki persoalan yang terasa lebih jelas. Ada bunyi yang berubah, baut yang longgar, kabel yang putus, atau komponen yang harus diganti. Perasaan tidak bekerja dengan cara yang serapi itu. Seseorang bisa merasa marah sekaligus sedih, kecewa tetapi juga takut, atau lelah tanpa benar-benar tahu apa yang membuatnya kehabisan tenaga.

Bagi sebagian laki-laki, membicarakan keadaan batin juga bisa terasa seperti memasuki wilayah yang sejak kecil tidak terlalu sering diajarkan. Mereka mungkin lebih terbiasa mendengar kalimat seperti "jangan cengeng", "harus kuat", atau "selesaikan sendiri" daripada pertanyaan tentang apa yang sebenarnya sedang dirasakan.

Baca Juga: Mengapa Banyak Laki-Laki Baru Menyadari Tubuhnya Bermasalah Setelah Terlalu Lama Mengabaikannya?

Ketika Masalah Harus Selalu Punya Solusi

Ada perbedaan antara mengetahui bahwa sesuatu sedang bermasalah dan mengetahui apa yang harus dilakukan terhadap masalah tersebut. Dalam urusan benda, hubungan antara masalah dan tindakan sering terlihat lebih sederhana. Televisi tidak menyala, periksa kabelnya; ban bocor, cari sumber bocornya; mesin bermasalah, cari bagian yang perlu diperbaiki.

Persoalan emosional tidak selalu menyediakan jalur seperti itu. Ketika seseorang merasa kecewa kepada pasangan, misalnya, mengganti sesuatu atau mencari solusi cepat belum tentu membuat perasaan tersebut selesai. Kadang yang dibutuhkan justru kemampuan untuk mengakui bahwa dirinya terluka sebelum mencari tahu apa yang harus dilakukan.

Psikolog Dr. Ronald F. Levant, dalam penelitiannya mengenai konsep normative male alexithymia, membahas bagaimana norma maskulinitas dapat membuat sebagian laki-laki mengalami kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosi. Dalam kajiannya, kesulitan tersebut tidak selalu berarti seseorang tidak memiliki perasaan, tetapi bisa berkaitan dengan bagaimana laki-laki belajar memahami dan mengomunikasikan pengalaman emosionalnya.

Karena itu, ketika seorang laki-laki mengatakan "saya tidak tahu", jawabannya belum tentu berarti tidak ada yang dirasakan. Bisa saja perasaannya ada, tetapi ia belum memiliki kosakata atau kebiasaan untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.

Baca Juga: Laki-Laki Tidak Selalu Sulit Bercerita. Kadang Mereka Tidak Tahu Harus Mulai dari Mana.

Peduli Tidak Selalu Datang dalam Bentuk Kata-Kata

Ada laki-laki yang tidak pandai mengatakan, "Aku khawatir melihat kamu seperti ini." Sebagai gantinya, ia datang membawa makanan, menawarkan mengantar ke dokter, memperbaiki motor, atau memastikan seseorang sudah sampai rumah dengan selamat.

Cara seperti itu tidak otomatis membuat komunikasi emosional menjadi cukup. Namun, tindakan tersebut bisa menjadi salah satu bentuk bahasa yang memang lebih akrab bagi sebagian laki-laki.

Peneliti Dr. Niobe Way, melalui penelitian mengenai hubungan sosial dan perkembangan remaja, menunjukkan bahwa kebutuhan manusia untuk memiliki hubungan yang dekat dan penuh kepercayaan bukan sesuatu yang hanya dimiliki perempuan. Dalam bukunya Deep Secrets [2011], Way memperlihatkan bagaimana anak laki-laki dan remaja laki-laki juga memiliki kebutuhan yang kuat untuk berbagi pengalaman emosional dan mencari kedekatan dengan orang lain.

Persoalannya muncul ketika kebutuhan tersebut berhadapan dengan tuntutan sosial mengenai bagaimana seorang laki-laki seharusnya bersikap. Menjadi kuat sering diterjemahkan sebagai tidak mengeluh. Mandiri dianggap berarti tidak membutuhkan bantuan. Menyimpan masalah sendiri kemudian terlihat seperti bagian dari menjadi laki-laki dewasa.

Padahal, kemampuan mengatakan "saya sedang kesulitan" tidak membuat seseorang menjadi lebih lemah. Justru, mengenali kondisi diri sendiri merupakan bagian dari kemampuan merawat diri dan menjaga hubungan dengan orang lain.

Baca Juga: Banyak Laki-Laki Baru Merasa Lelah Setelah Semua Urusan Selesai. Kenapa Bisa Begitu?

Mungkin yang Dibutuhkan Bukan Laki-Laki yang Lebih Banyak Bicara

Membicarakan perasaan bukan berarti setiap laki-laki harus berubah menjadi orang yang mampu menjelaskan seluruh isi kepalanya dalam satu percakapan. Ada orang yang memang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami apa yang dirasakan sebelum mampu mengatakannya kepada orang lain.

Percakapan juga tidak harus selalu dimulai dengan pertanyaan besar seperti, "Apa yang sebenarnya kamu rasakan?" Bagi seseorang yang tidak terbiasa membicarakan emosi, pertanyaan itu justru bisa terasa seperti ujian yang jawabannya tidak pernah dia pelajari.

Kadang, percakapan bisa dimulai dari hal yang lebih sederhana. "Belakangan kelihatan capek, ada yang lagi kepikiran?" atau "Kalau mau cerita, aku dengerin." Kalimat semacam itu tidak memaksa seseorang membuka semua hal sekaligus, tetapi memberikan ruang bahwa bercerita bukan sesuatu yang memalukan.

Dan untuk laki-laki yang terbiasa memperbaiki banyak hal, mungkin ada satu pekerjaan yang memang membutuhkan latihan lebih lama: menyadari bahwa tidak semua persoalan harus langsung diperbaiki. Ada perasaan yang cukup didengarkan. Ada kesedihan yang perlu diberi waktu. Ada kekecewaan yang harus diakui sebelum seseorang bisa menentukan apa yang ingin dilakukan setelahnya.

Mungkin itulah sebabnya seorang laki-laki bisa begitu sabar mencari baut yang hilang di bawah meja, tetapi gugup ketika harus mencari kata untuk menjelaskan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Barang rusak memberikan petunjuk yang bisa disentuh, sementara perasaan sering kali baru bisa dipahami setelah seseorang cukup berani berhenti, melihat ke dalam dirinya sendiri, lalu mengakui apa yang sebenarnya sedang terjadi. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.