Kita sering merasa sudah pernah melihat ini sebelumnya. Model yang mirip, produk yang terasa familiar, bahkan pola yang seolah berulang. Tapi anehnya, kita tetap tertarik, tetap mengikuti, dan tetap membeli.
Ada sensasi seperti déjà vu dalam banyak tren yang muncul hari ini. Fashion lama kembali, produk dengan klaim serupa muncul lagi, dan gaya hidup yang pernah populer di masa lalu kembali dibicarakan. Semua terasa seperti siklus yang terus berputar.
Namun yang menarik, kita tak hanya menyadari itu. Kita tetap ikut di dalamnya. Seolah tahu ini pengulangan, tapi tidak merasa perlu berhenti.
Baca Juga: Tren Industri yang Terus Berulang dalam Pola Konsumsi
Kita Tidak Membeli Barang, Kita Membeli Rasa Baru
Salah satu alasan kenapa siklus ini terus terjadi adalah karena yang kita cari bukan barangnya. Kita mencari rasa baru yang datang bersama tren itu. Sensasi mencoba sesuatu yang terasa segar, meskipun sebenarnya tidak sepenuhnya baru.
Contohnya terlihat jelas dalam dunia fashion. Gaya ‘90-an kembali populer, lalu diikuti tren Y2K, dan kini bergeser lagi ke gaya yang terasa ‘nostalgic’. Baju yang dulu dianggap biasa, sekarang terasa berbeda karena konteksnya berubah.
Hal yang sama terjadi pada produk kecantikan atau makanan. Bahan lama dikemas ulang dengan nama baru, desain baru, dan narasi yang lebih menarik. Kita tahu ini bukan hal baru, tapi tetap merasa ingin mencoba.
Di sinilah peran persepsi menjadi penting. Yang berubah bukan produknya saja, tapi cara kita melihatnya. Dan perubahan itu cukup untuk membuat kita merasa ini layak diikuti.
Baca Juga: Fenomena Tren dan Siklus Konsumsi yang Terus Berulang
Kita Sadar, Tapi Tidak Benar-Benar Menghentikan
Menariknya, banyak orang sebenarnya sadar bahwa tren ini berulang. Kita bisa mengenali pola, melihat kemiripan, dan bahkan mengomentarinya. Tapi kesadaran itu tidak selalu berujung pada perubahan perilaku.
Dalam banyak kasus, kita tetap membeli, tetap mencoba, dan tetap mengikuti arus. Bukan karena tidak tahu, tapi karena dorongan untuk ikut sering lebih kuat dari keinginan untuk berhenti. Ada rasa tidak ingin tertinggal.
FOMO menjadi salah satu faktor yang memperkuat siklus ini. Ketika sesuatu terlihat di mana-mana, kita mulai merasa perlu menjadi bagian dari itu. Bukan karena butuh, tapi karena ingin merasa relevan.
Di sisi lain, tren juga memberi identitas sementara. Apa yang kita pakai, konsumsi, atau tampilkan sering menjadi bagian dari cara kita dilihat. Dan dalam dunia yang cepat berubah, identitas itu juga ikut berubah.
Kita tak hanya ikut tren. Kita juga ikut menghidupkannya. Setiap keputusan kecil yang kita ambil jadi bagian dari siklus yang lebih besar.
Mungkin yang perlu dipertanyakan bukan kenapa tren itu berulang. Tapi kenapa kita selalu kembali ke pola yang sama. Dan di situlah pertanyaan sederhana itu menjadi relevan: kita ikut karena ingin, atau karena terbiasa? [][Adrian Damar/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]