Setiap beberapa tahun, industri seperti menemukan ‘hal baru’. Produk berubah, kemasan diperbarui, dan narasi dibangun ulang. Tapi jika diperhatikan lebih dekat, polanya sering kali sama—hanya tampil dengan wajah yang berbeda.
Beberapa waktu lalu, minuman berbasis kopi susu dengan gula aren menjadi sangat populer di Indonesia. Gerai bermunculan, antrean panjang terlihat di banyak tempat, dan hampir semua brand mencoba membuat versi mereka sendiri. Dalam waktu singkat, produk ini terasa seperti standar baru.
Namun, sebelum itu, tren serupa juga pernah terjadi. Minuman boba, minuman kekinian dengan topping beragam, hingga kopi instan premium pernah berada di posisi yang sama. Masing-masing datang dengan narasi yang berbeda, tapi pola konsumsi yang mirip.
Baca Juga: Fenomena Tren dan Siklus Konsumsi yang Terus Berulang
Industri yang Bergerak dalam Siklus
Dalam banyak industri, terutama makanan, fashion, dan teknologi, tren tidak benar-benar baru. Ia sering merupakan pengulangan dari pola lama yang dikemas ulang. Yang berubah adalah konteks, target pasar, dan cara penyampaiannya.
Contohnya terlihat pada industri fashion. Tren ‘retro’ atau ‘vintage’ terus kembali dalam siklus tertentu, dari tahun 90-an hingga awal 2000-an. Brand besar memanfaatkan nostalgia untuk menghidupkan kembali produk lama dengan pendekatan baru.
Menurut laporan dari McKinsey dalam The State of Fashion, industri fashion bergerak dalam siklus tren yang semakin cepat, didorong oleh media sosial dan fast fashion. Hal ini membuat pergantian tren menjadi lebih singkat dibandingkan sebelumnya.
Baca Juga: Internet Tanpa Media Sosial, Masih Mungkin Terjadi?
Peran Media dan Distribusi dalam Mempercepat Pola
Perbedaan utama antara dulu dan sekarang ada pada kecepatan. Media sosial mempercepat penyebaran tren, sementara e-commerce mempermudah akses terhadap produk. Kombinasi ini membuat siklus konsumsi menjadi jauh lebih cepat.
Produk yang baru muncul bisa langsung viral dalam hitungan hari. Influencer, algoritma, dan distribusi digital bekerja bersama untuk memperkuat eksposur. Akibatnya, tren tidak hanya muncul lebih cepat, tapi juga lebih cepat hilang.
Dalam laporan dari Deloitte tentang consumer behavior, disebutkan bahwa konsumen modern semakin dipengaruhi oleh tren digital dan rekomendasi online dalam mengambil keputusan pembelian. Ini menunjukkan bahwa pola konsumsi semakin bergantung pada eksposur, bukan kebutuhan.
Baca Juga: Cara Influencer Membentuk Cara Kita Melihat Sebuah Produk
Dampak Ketika Pola Ini Tidak Disadari
Ketika siklus ini tidak disadari, konsumen cenderung terjebak dalam pola yang sama. Membeli karena tren, bukan kebutuhan. Mengikuti arus tanpa benar-benar mempertimbangkan nilai dari produk tersebut.
Dampaknya tak hanya pada pengeluaran, tapi juga pada cara melihat produk. Sesuatu dianggap menarik karena sedang ramai, bukan karena benar-benar relevan. Ini membuat kepuasan menjadi pendek dan cepat tergantikan.
Dalam jangka panjang, pola ini juga berdampak pada industri itu sendiri. Produksi menjadi berlebihan, siklus produk menjadi pendek, dan tekanan untuk terus menciptakan tren baru semakin tinggi.
Tren industri akan terus berulang. Yang bisa berubah adalah cara kita meresponsnya. Menyadari pola ini menjadi langkah awal untuk tidak selalu ikut di dalamnya. [][Rommy Rimbarawa/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]