Ada masa ketika satu produk terasa ada di mana-mana. Semua orang membicarakannya, menggunakannya, bahkan merekomendasikannya. Lalu beberapa waktu kemudian, produk itu perlahan menghilang, digantikan oleh yang lain.
Suatu waktu, sepatu dengan model tertentu tiba-tiba jadi sangat populer. Dipakai banyak orang, muncul di berbagai konten media sosial, dan terasa seperti pilihan yang ‘paling masuk akal’ untuk dimiliki. Dalam hitungan minggu, rasanya hampir semua orang punya atau setidaknya ingin punya.
Beberapa bulan kemudian, model itu mulai jarang terlihat. Bukan karena kualitasnya menurun, tapi karena perhatian sudah berpindah. Tren baru muncul, dan siklus yang sama kembali terulang.
Fenomena ini bukan sesuatu yang baru. Yang berubah hanyalah kecepatannya.
Baca Juga: Cara Influencer Membentuk Cara Kita Melihat Sebuah Produk
Ketika Tren Membentuk Cara Kita Memilih
Dalam banyak situasi, pilihan tidak selalu datang dari kebutuhan. Ia sering terbentuk dari paparan yang berulang. Apa yang sering terlihat akan terasa familiar, dan apa yang familiar akan terasa benar.
Menurut Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow, “A reliable way to make people believe in falsehoods is frequent repetition, because familiarity is not easily distinguished from truth.” Pernyataan ini menjelaskan bagaimana sesuatu bisa terasa benar hanya karena sering muncul.
Dalam konteks konsumsi, ini berarti produk yang sering muncul akan lebih mudah dipercaya. Bukan karena paling sesuai, tapi karena paling sering terlihat.
Tanpa disadari, keputusan mulai bergeser. Dari memilih berdasarkan kebutuhan, menjadi mengikuti apa yang sedang ramai.
Baca Juga: AI dan Cara Kita Menyederhanakan Masalah Secara Berlebihan
Siklus yang Cepat, Kepuasan yang Pendek
Contoh lain terlihat dari tren minuman atau makanan viral. Satu jenis minuman bisa tiba-tiba muncul di berbagai tempat, dengan antrean panjang dan ulasan yang terus bermunculan. Banyak orang datang bukan karena benar-benar penasaran, tapi karena tidak ingin tertinggal.
Beberapa waktu kemudian, antrean itu hilang. Produk yang sama masih ada, tapi tidak lagi menarik perhatian. Pengalaman yang sebelumnya terasa ‘harus dicoba’ berubah menjadi biasa saja.
Dalam bukunya Liquid Modernity, Zygmunt Bauman menulis, “Consumption is a matter of speed, excess and waste.” Ia menggambarkan bagaimana konsumsi modern bergerak cepat, berlebih, dan mudah ditinggalkan.
Ini menjelaskan mengapa kepuasan dari mengikuti tren sering tidak bertahan lama. Yang dicari bukan hanya produk, tapi rasa menjadi bagian dari sesuatu yang sedang berlangsung.
Baca Juga: Preferensi Instan: Bagaimana Algoritma Diam-Diam Menentukan Apa yang Kita Suka
Dampak yang Sering Tidak Disadari
Ketika siklus ini terus diikuti tanpa disadari, ada beberapa dampak yang mulai terasa. Pengeluaran menjadi lebih impulsif, karena keputusan diambil tanpa banyak pertimbangan.
Selain itu, muncul kebiasaan untuk selalu mencari hal baru, tanpa benar-benar menikmati apa yang sudah dimiliki. Kepuasan menjadi pendek, dan cepat tergantikan oleh keinginan berikutnya.
Dalam jangka panjang, pola ini bisa membuat cara kita melihat nilai menjadi berubah. Sesuatu dianggap menarik bukan karena kualitasnya, tapi karena posisinya dalam tren.
Menghadapi ini tidak berarti harus menolak tren sepenuhnya. Yang dibutuhkan adalah kesadaran untuk melihat kembali alasan di balik setiap pilihan.
Apakah sesuatu benar-benar dibutuhkan, atau hanya terasa perlu karena sedang ramai. Pertanyaan sederhana ini sering cukup untuk memperlambat siklus yang terlalu cepat. [][Adrian Damar/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]