Burnout mereda, tetapi semangat belum juga pulang. Bisa jadi masalahnya bukan kurang motivasi, melainkan tubuh dan pikiran yang menolak pola lama.
Ada masa ketika seseorang bisa bekerja sampai malam, menerima hampir semua tugas, menjawab pesan kapan saja, dan merasa bersalah ketika berhenti. Setelah mengalami burnout, kebiasaan itu tidak lagi terasa mungkin dilakukan. Bahkan membuka pekerjaan yang dahulu biasa dikerjakan bisa memunculkan rasa berat atau muak.
Situasi tersebut sering diterjemahkan sebagai kehilangan motivasi. Kita mulai bertanya mengapa diri yang dahulu begitu produktif sekarang terasa berbeda. Lalu muncul keinginan mengembalikan versi lama secepat mungkin.
Namun mungkin pertanyaannya perlu sedikit dibalik. Bagaimana jika sebagian dari rasa enggan itu justru muncul karena tubuh dan pikiran sudah mengenali biaya dari cara kerja sebelumnya? Yang terlihat sebagai demotivasi bisa saja bercampur dengan kelelahan, sinisme, dan kebutuhan untuk membangun hubungan baru dengan pekerjaan.
WHO mendefinisikan burnout sebagai fenomena okupasional akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Tiga dimensinya mencakup kehabisan energi, meningkatnya jarak mental atau sikap negatif terhadap pekerjaan, serta menurunnya efektivitas profesional. Rasa muak dan menjauh dari pekerjaan karena itu memang termasuk bagian yang dapat muncul dalam pengalaman burnout.
Baca Juga: Benarkah Kita Sudah Berubah? Lalu Kenapa Kita Masih Mengukur Diri dengan Versi Lama?
Istirahat Bisa Mengembalikan Tenaga, tetapi Belum Tentu Mengembalikan Hubungan Kita dengan Pekerjaan
Bayangkan seseorang mengambil cuti setelah berbulan-bulan kelelahan. Tidurnya membaik, tubuh terasa lebih ringan, dan ia akhirnya mempunyai waktu melakukan hal-hal yang lama tertunda. Namun ketika kembali melihat meja kerja, rasa berat muncul lagi.
Ini tidak selalu berarti waktu istirahatnya sia-sia. Energi fisik dan hubungan emosional terhadap pekerjaan tidak harus pulih dalam kecepatan yang sama. Jika pekerjaan sebelumnya terlalu lama diasosiasikan dengan tekanan, tuntutan tanpa batas, atau perasaan tidak pernah cukup, kembali ke situasi yang sama dapat memunculkan resistensi.
Di sinilah motivasi perlu dilihat lebih luas daripada sekadar “punya semangat atau tidak”. Edward Deci dan Richard Ryan melalui Self Determination Theory menjelaskan bahwa kualitas motivasi banyak dipengaruhi pemenuhan tiga kebutuhan psikologis dasar: autonomy, competence, dan relatedness. Ketika seseorang merasa mempunyai pilihan, mampu menjalankan tugas dengan baik, dan terhubung dengan orang lain, motivasi yang lebih sehat lebih mungkin tumbuh.
Sebaliknya, konteks yang terus menghambat kebutuhan tersebut dapat melemahkan motivasi dan kesejahteraan. Pekerjaan yang membuat seseorang merasa tidak punya kendali, selalu gagal memenuhi standar, atau terputus dari dukungan sosial tidak otomatis menjadi menarik kembali hanya karena ia sudah tidur cukup selama beberapa hari.
Karena itu, memaksa diri menjadi ‘seproduktif dulu’ bisa salah sasaran. Pertanyaan yang lebih berguna adalah bagian mana yang sebenarnya membuat pekerjaan terasa begitu berat. Apakah volumenya, cara berkomunikasi, jam kerja, ekspektasi, hubungan dengan atasan, atau kebiasaan diri sendiri yang terlalu sulit mengatakan tidak?
Baca Juga: Yang Selalu Ada Seringkali Baru Terasa Berharga Saat Sudah Tidak Ada, Mengapa?
Membangun Motivasi Lagi Tidak Harus Berarti Menghidupkan Mesin Lama
Setelah burnout, target kecil sering lebih masuk akal daripada mencoba mengembalikan performa lama dalam satu lompatan. Menyelesaikan satu pekerjaan penting, menentukan jam berhenti, mengurangi tugas yang tidak perlu, atau membangun kembali rasa mampu melalui pekerjaan yang terukur dapat memberi pengalaman keberhasilan tanpa langsung menciptakan beban yang sama.
Pendekatan ini berkaitan dengan kebutuhan akan competence. Ketika semua pekerjaan terasa terlalu besar, seseorang mudah memperoleh kesan bahwa ia sudah tidak mampu seperti dahulu. Tugas yang lebih kecil dan jelas dapat membantu mengembalikan pengalaman bahwa sesuatu masih bisa diselesaikan dengan baik.
Autonomy juga perlu dibangun kembali sejauh situasi memungkinkan. Memiliki ruang menentukan urutan kerja, menetapkan batas, atau memahami alasan mengapa suatu tugas penting dapat mengubah pengalaman kerja yang sebelumnya terasa sepenuhnya dikendalikan tuntutan luar. Deci dan Ryan menunjukkan bahwa motivasi yang lebih otonom berkaitan dengan ketekunan, performa, dan kesehatan psikologis yang lebih baik dibandingkan motivasi yang semata-mata terasa terpaksa.
Lalu ada relatedness. Burnout mudah membuat seseorang menarik diri karena sudah terlalu lelah untuk berinteraksi. Padahal dukungan dari rekan, atasan, keluarga, atau orang yang memahami situasi dapat membantu mengurangi perasaan bahwa seluruh beban harus diselesaikan sendiri.
Namun pemulihan juga membutuhkan keberanian menerima kemungkinan bahwa sebagian hal memang harus berubah. Jika sumber tekanan berada pada sistem kerja yang terus sama, strategi pribadi mempunyai batas. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan menjadi lebih disiplin, lebih positif, atau semakin pandai mengatur waktu.
Rasa muak pun perlu dibaca, bukan langsung dilawan. Bisa jadi ia hanya bagian dari proses pulih yang membutuhkan waktu. Namun bisa juga ia memberi informasi bahwa pekerjaan, lingkungan, atau pola hidup tertentu sudah terlalu lama bertentangan dengan kebutuhan diri.
Tentu demotivasi yang menetap tidak selalu dapat dijelaskan oleh burnout. Kehilangan minat yang meluas ke hampir semua bagian kehidupan, perubahan tidur atau nafsu makan yang signifikan, rasa putus asa, atau kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari dapat berkaitan dengan kondisi lain dan layak dibicarakan dengan profesional kesehatan mental. Burnout sendiri menurut WHO merujuk khusus pada konteks pekerjaan dan bukan diagnosis medis.
Mungkin karena itu, menyiasati demotivasi setelah burnout bukan pekerjaan menemukan kalimat motivasi yang cukup kuat. Yang lebih penting adalah membangun kondisi di mana motivasi mempunyai alasan untuk kembali. Tenaga perlu dipulihkan, tetapi demikian pula rasa kendali, kemampuan, hubungan, dan batas yang selama ini mungkin terlalu sering dikorbankan.
Ada kemungkinan diri yang kembali nanti memang tidak akan bekerja persis seperti dahulu. Ia mungkin lebih cepat berhenti ketika lelah, lebih sering mengatakan tidak, dan tidak lagi menganggap sibuk sebagai bukti bahwa dirinya berharga. Dari luar, itu bisa terlihat seperti kehilangan sebagian semangat.
Padahal mungkin bukan semangat yang hilang. Bisa jadi seseorang hanya sudah tidak bersedia kembali menjadi orang yang dahulu mampu menanggung semuanya sampai dirinya sendiri habis. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.