Keinginan untuk menjadi lebih baik hampir selalu terdengar positif. Banyak orang mulai membaca buku, mengikuti kelas, memperbaiki kebiasaan, dan mencoba mengatur hidup dengan lebih rapi. Dari luar, semua terlihat seperti proses yang jelas arahnya.

Namun di balik itu, ada satu pertanyaan yang sering tidak diajukan. Lebih baik dalam arti apa, dan berdasarkan nilai yang mana. Dari sini, proses berkembang yang terlihat sederhana, ternyata tidak selalu memiliki arah yang benar-benar jelas.

Di banyak situasi, keinginan untuk berkembang tidak muncul dari refleksi yang dalam. Ia sering muncul dari apa yang terlihat, apa yang dianggap berhasil, atau apa yang sedang banyak dibicarakan. Dari sini, arah yang diambil bisa terasa tepat, tapi belum tentu sesuai.

Apa yang terlihat sebagai langkah maju, bisa jadi hanya perpindahan dari satu standar ke standar lain. Dan tidak semua standar itu benar-benar milik kita.

Baca Juga: Capek Jadi Orang Lain? Saatnya Kini Mengenal Diri Sendiri

Ketika ‘Lebih Baik’ Dibentuk dari Luar

Dalam dunia yang penuh referensi, definisi tentang 'lebih baik' menjadi semakin luas. Media sosial, buku pengembangan diri, dan cerita sukses orang lain menghadirkan banyak versi kehidupan yang terlihat ideal. Dari sana, seseorang mulai memilih mana yang ingin diikuti.

Psikolog Edward Deci dan Richard Ryan, melalui teori Self-Determination, menjelaskan bahwa motivasi manusia terbagi antara yang berasal dari dalam [intrinsic] dan dari luar [extrinsic]. Ketika dorongan untuk berkembang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, arah yang diambil sering kurang terasa personal.

Dalam konteks ini, seseorang bisa merasa sedang berkembang, tetapi sebenarnya hanya sedang menyesuaikan diri dengan ekspektasi yang ada. Apa yang dikejar bukan lagi nilai yang diyakini, tetapi nilai yang terlihat berhasil di luar.

Masalahnya bukan pada referensi itu sendiri. Referensi tetap penting sebagai sumber inspirasi. Namun ketika ia menjadi satu-satunya arah, ruang untuk mengenali diri menjadi semakin sempit.

Dari sini, 'lebih baik' jadi sesuatu yang diikuti, bukan dipilih.

Baca Juga: Kita Sibuk Mengejar yang Berharga, Tapi Tidak Pernah Bertanya: Berharga untuk Siapa?

Antara Tujuan, Nilai, dan Rasa Cukup

Tujuan sering terlihat jelas. Karier naik, penghasilan meningkat, kebiasaan menjadi lebih teratur. Namun di balik tujuan tersebut, ada nilai yang seharusnya menjadi dasar. Tanpa nilai yang jelas, tujuan bisa terus berubah mengikuti apa yang terlihat lebih menarik.

Psikolog Viktor Frankl menjelaskan bahwa manusia bukan hanya membutuhkan tujuan, tetapi juga makna. Makna inilah yang memberi arah, bukan sekadar hasil yang ingin dicapai. Ketika makna tidak jelas, pencapaian sering terasa kosong.

Dalam banyak kasus, seseorang bisa mencapai sesuatu yang dulu diinginkan, tetapi tetap merasa kurang. Hal ini bukan karena hasilnya tidak cukup, tetapi karena apa yang dikejar tidak benar-benar selaras dengan nilai yang dimiliki.

Di titik ini, berkembang menjadi proses yang terus berjalan tanpa rasa selesai. Setiap pencapaian diikuti oleh target baru, tanpa jeda untuk memahami apakah arah tersebut masih relevan.

Mungkin yang membuatnya terasa melelahkan bukan prosesnya. Tapi ketidakjelasan tentang apa yang sebenarnya ingin dicapai.

Baca Juga: Kita Sering Merasa Salah Jalan, Tapi Memangnya Sudah Tahu Mau ke Mana?

Mengenal Arah Sebelum Melangkah

Keinginan untuk berkembang tidak perlu dihentikan. Namun mungkin perlu diperlambat. Bukan untuk mengurangi langkah, tetapi untuk memahami arah yang diambil. Mengenali nilai bukan proses yang instan. Ia membutuhkan waktu, pengalaman, dan kejujuran terhadap diri sendiri. Dari sini, berkembang tidak lagi sekadar mengikuti, tetapi menjadi pilihan yang lebih sadar.

Ketika nilai sudah lebih jelas, tujuan menjadi lebih stabil. Perbandingan dengan orang lain tidak lagi terlalu menentukan, karena arah sudah memiliki dasar yang lebih kuat. Di titik ini, 'lebih baik' tidak lagi berarti menjadi seperti orang lain. Tetapi menjadi lebih dekat dengan versi diri yang memang ingin dibentuk.

Karena bisa jadi, yang selama ini dicari bukan cara untuk berkembang lebih cepat. Tapi cara untuk berkembang dengan arah yang benar. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.