Ponsel membuat hampir setiap momen bisa disimpan. Kita memotret agar tidak lupa. Namun terkadang, pengalaman justru meminta kita berhenti merekam dan benar-benar berada di sana.

Di sebuah konser, lagu yang sudah ditunggu akhirnya dimainkan. Puluhan tangan segera terangkat, tetapi bukan hanya untuk mengikuti musik. Layar-layar kecil ikut menyala, merekam panggung yang sebenarnya sedang berlangsung tepat di depan mata.

Kebiasaan itu mudah dimengerti. Foto dan video memberi kita kesempatan membawa pulang sesuatu dari pengalaman yang tidak dapat diulang. Beberapa tahun kemudian, satu rekaman pendek bahkan bisa mengembalikan suara, wajah, dan suasana yang mungkin sudah mulai kabur dalam ingatan.

Namun dokumentasi juga mengubah cara kita mengalami sebuah peristiwa. Ketika perhatian mulai terbagi antara apa yang sedang terjadi dan bagaimana cara menyimpannya, kita tidak lagi sekadar menjadi orang yang hadir. Kita sekaligus menjadi orang yang memikirkan bagaimana pengalaman hari ini akan dilihat kembali nanti.

Baca Juga: Kenapa Kita Masih Menyimpan Benda-benda Kecil yang Sebenarnya Tidak Berguna?

Kamera Tidak Selalu Membuat Kita Kehilangan Momen

Ada anggapan bahwa memotret otomatis membuat seseorang kurang menikmati pengalaman. Penelitian Kristin Diehl, Gal Zauberman, dan Alixandra Barasch justru menemukan sesuatu yang lebih rumit. Dalam sembilan eksperimen, mengambil foto pada banyak pengalaman positif dapat meningkatkan kenikmatan karena membuat orang lebih terlibat dengan apa yang sedang mereka alami.

Kamera, dengan kata lain, dapat membuat kita memperhatikan. Ketika mencari sesuatu yang ingin difoto di museum, misalnya, mata menjadi lebih aktif memilih detail visual yang dianggap menarik. Penelitian tersebut menemukan peserta yang mengambil foto menghabiskan lebih banyak perhatian visual pada artefak yang relevan dengan pengalaman mereka.

Namun efeknya berubah ketika kegiatan memotret mulai mengganggu pengalaman itu sendiri. Diehl dan koleganya menemukan manfaat tersebut berkurang ketika proses mengambil gambar menjadi terlalu mengintervensi pengalaman atau ketika orang sebenarnya sudah sangat terlibat dalam aktivitas yang dilakukan. Jadi persoalannya bukan keberadaan kamera semata, melainkan apa yang dilakukan kamera terhadap perhatian kita.

Penelitian Linda Henkel dari Fairfield University memberi lapisan lain. Dalam eksperimen kunjungan museum, peserta yang diminta memotret objek secara keseluruhan kemudian mengingat lebih sedikit objek, detail, dan lokasi dibandingkan mereka yang hanya mengamati. Namun ketika peserta menggunakan zoom untuk memotret bagian tertentu, gangguan terhadap ingatan tersebut tidak muncul dengan pola yang sama.

Temuan-temuan ini tampak bertentangan hanya jika kita menganggap semua kegiatan memotret sama. Kamera dapat mengarahkan perhatian, tetapi juga dapat membuat sebagian pekerjaan mengingat seperti diserahkan kepada perangkat. Cara, tujuan, dan seberapa jauh dokumentasi mengintervensi pengalaman ikut menentukan apa yang terjadi.

Baca Juga: Barang Lama Bisa Jadi Benda Bersejarah, Tetapi Kapan Nilainya Mulai Berubah?

Ada Perbedaan antara Menyimpan Pengalaman dan Menyiapkan Pengalaman untuk Dilihat Orang Lain

Perubahan menjadi lebih menarik ketika foto tidak lagi hanya dibuat untuk diri sendiri. Sebelum tombol kamera ditekan, kita bisa mulai membayangkan siapa yang akan melihatnya, apakah gambarnya cukup bagus, bagian mana yang pantas diunggah, atau bagaimana pengalaman tersebut akan terlihat di media sosial.

Kajian Diehl dan Zauberman mengenai kegiatan memotret secara sadar menunjukkan bahwa orientasi semacam ini dapat mengubah hubungan kita dengan momen yang sedang berlangsung. Ketika perhatian bergeser kepada penilaian orang lain atau kepada bagaimana pengalaman akan dikonsumsi di masa depan, manfaat keterlibatan yang sebelumnya muncul dari memotret dapat berkurang.

Bayangkan menyaksikan pertunjukan tari. Kita bisa merekam tiga puluh detik karena gerakan tertentu terasa begitu indah dan ingin melihatnya kembali. Namun pengalaman menjadi berbeda ketika sebagian besar pertunjukan dihabiskan dengan memastikan penari tetap berada dalam bingkai, mengatur zoom, mengecek hasil rekaman, kemudian memikirkan bagian mana yang akan diunggah.

Yang tersimpan mungkin justru semakin banyak. Kita mempunyai foto sebelum pertunjukan, video lagu pembuka, potongan bagian terbaik, swafoto bersama teman, dan rekaman penutup. Namun jumlah dokumentasi tidak selalu menunjukkan seberapa utuh pengalaman tersebut tinggal dalam diri.

Penelitian lain bahkan menemukan kegiatan mengambil foto dapat menggeser jenis informasi yang kita ingat. Peserta yang bebas memotret dalam sebuah pengalaman menunjukkan ingatan visual yang lebih baik, tetapi mengingat lebih sedikit informasi auditori dibandingkan peserta yang tidak menggunakan kamera. Kamera seolah membantu menentukan bagian mana dari pengalaman yang mendapatkan perhatian lebih besar.

Di sinilah seni dan budaya mempunyai konteks yang menarik. Konser bukan hanya gambar panggung, pertunjukan teater bukan hanya adegan, dan upacara budaya bukan sekadar komposisi visual. Ada suara, keheningan, gerakan orang di sekitar, skala ruang, bahkan perasaan menjadi bagian dari kerumunan yang tidak selalu dapat dipadatkan menjadi berkas digital.

Bukan berarti semua pengalaman lebih baik dibiarkan tanpa dokumentasi. Foto keluarga setelah pertunjukan bisa menjadi benda berharga puluhan tahun kemudian, sementara rekaman sebuah peristiwa budaya bahkan dapat mempunyai nilai sejarah. Dokumentasi memungkinkan pengalaman personal dan kolektif melampaui orang-orang yang hadir ketika peristiwa berlangsung.

Mungkin yang perlu dipertanyakan hanyalah kapan kita sudah mempunyai cukup banyak rekaman. Setelah satu foto diambil, apakah lima puluh foto berikutnya benar-benar membantu kita mengingat lebih baik? Setelah potongan lagu favorit tersimpan, apakah seluruh konser masih harus dilihat melalui layar?

Ada momen ketika kamera membuat kita melihat lebih teliti. Ada pula momen ketika menyimpannya di saku memungkinkan mata, telinga, dan perhatian bekerja tanpa harus menghasilkan apa pun. Keduanya dapat menjadi cara menikmati pengalaman, selama kita masih mengetahui kapan memilih yang satu dan kapan melepaskan yang lainnya.

Sebab tidak setiap pengalaman membutuhkan bukti bahwa kita pernah berada di sana. Beberapa peristiwa mungkin hanya mempunyai satu tempat penyimpanan yang tidak dapat dibagikan, diperbesar, atau diputar ulang. Ia tinggal dalam ingatan orang yang benar-benar hadir ketika semuanya sedang terjadi. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.