Tak lama setelah mengirim pesan, kita mulai melihat layar. Sudah dibaca, tetapi belum dibalas. Beberapa menit kemudian muncul pertanyaan di kepala: "Kok lama, ya?"
Padahal, beberapa tahun lalu kita masih terbiasa menunggu balasan surat berhari-hari atau menunggu telepon pada jam-jam tertentu. Tanpa banyak disadari, bukan hanya teknologi yang berubah. Cara kita memandang waktu pun ikut berubah.
Hari ini hampir semua hal bergerak lebih cepat. Makanan dapat dipesan dari rumah dan tiba dalam hitungan menit. Transfer uang berlangsung seketika. Film bisa diputar kapan saja tanpa harus menunggu jadwal televisi. Bahkan kecerdasan buatan mampu menjawab pertanyaan hanya dalam hitungan detik.
Kemudahan ini tentu membawa banyak manfaat. Aktivitas menjadi lebih efisien dan banyak pekerjaan dapat diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat. Namun di balik semua itu, muncul satu pertanyaan menarik: apakah teknologi juga membuat kita semakin sulit bersabar?
Jawabannya mungkin tidak sesederhana ya atau tidak. Yang berubah bukan sekadar kecepatan teknologi, melainkan ekspektasi kita terhadap waktu.
Baca Juga: Masih Ingatkah Kita Nama-nama Jalan?
Ketika Cepat Menjadi Kebiasaan
Semakin sering seseorang mendapatkan sesuatu secara instan, semakin cepat pula otaknya menganggap kecepatan sebagai sesuatu yang normal. Apa yang dulu dianggap luar biasa, lama-kelamaan berubah menjadi standar baru.
Hari ini, video yang berhenti beberapa detik karena koneksi internet terasa mengganggu. Pengiriman barang yang membutuhkan tiga hari kadang dianggap terlalu lama, padahal dulu waktu tunggu seperti itu terasa biasa. Kita bahkan mulai berharap hampir semua hal dapat berjalan secepat mengetik satu perintah di layar.
Psikolog peraih Nobel Daniel Kahneman menjelaskan bahwa manusia membentuk penilaian berdasarkan pengalaman yang terus berulang. Ketika pengalaman sehari-hari dipenuhi layanan yang serba cepat, otak secara perlahan menyesuaikan harapan terhadap dunia di sekitarnya. Akibatnya, menunggu menjadi pengalaman yang terasa semakin tidak nyaman.
Teknologi tidak secara langsung menghilangkan kesabaran. Ia hanya mengajarkan bahwa banyak hal memang bisa diperoleh dengan lebih cepat. Persoalannya muncul ketika standar itu tanpa sadar kita terapkan pada semua aspek kehidupan.
Baca Juga: Mengapa Banyak Orang Mulai Merindukan Aktivitas yang Tidak Terhubung ke Internet?
Perhatian Kita Ikut Berubah
Perubahan ini tidak hanya terlihat pada cara kita menunggu, tetapi juga pada cara kita memberi perhatian. Notifikasi yang terus berdatangan, perpindahan dari satu aplikasi ke aplikasi lain, hingga kebiasaan menggulir layar membuat otak terbiasa menerima rangsangan baru dalam waktu singkat.
Profesor Gloria Mark dari University of California, Irvine, yang meneliti perilaku manusia di lingkungan digital, menjelaskan bahwa kehidupan modern dipenuhi gangguan yang membuat perhatian kita semakin mudah berpindah. Dalam bukunya Attention Span, ia menunjukkan bahwa dunia digital mendorong kita untuk terus mencari informasi baru, sehingga kemampuan bertahan pada satu aktivitas dalam waktu lama menjadi semakin menantang.
Kondisi ini bukan berarti manusia kehilangan kemampuan untuk fokus. Namun kita memang hidup di lingkungan yang terus mengajak berpindah. Tidak mengherankan jika membaca buku terasa lebih berat, menunggu seseorang membalas pesan terasa lebih lama, atau menyelesaikan pekerjaan tanpa mengecek ponsel menjadi tantangan tersendiri.
Baca Juga: Ingatan yang Kita Serahkan kepada Mesin
Tidak Semua Hal Bisa Dipercepat
Meski teknologi mampu memangkas banyak waktu, ada hal-hal yang tetap berjalan mengikuti ritmenya sendiri. Hubungan yang baik membutuhkan proses untuk tumbuh. Kepercayaan tidak lahir dalam semalam. Belajar sebuah keterampilan baru memerlukan latihan yang berulang. Bahkan pemulihan kesehatan, baik fisik maupun mental, sering tidak bisa dipercepat oleh teknologi secanggih apa pun.
Karena itu, tantangan manusia modern bukanlah memperlambat kemajuan teknologi. Justru sebaliknya, kita perlu belajar menggunakan teknologi tanpa membiarkan seluruh cara berpikir kita ikut bergerak secepat perangkat yang kita gunakan. Efisiensi memang penting, tetapi tidak semua proses dalam hidup dapat diukur dengan hitungan detik.
Teknologi telah membantu manusia menghemat waktu dalam banyak hal. Namun waktu yang berhasil dihemat itu seharusnya memberi ruang untuk melakukan hal-hal yang memang membutuhkan kesabaran, bukan membuat kita semakin gelisah setiap kali harus menunggu. Sebab pada akhirnya, hidup tidak hanya terdiri atas apa yang bisa dipercepat. Ada proses, hubungan, pengalaman, dan kedewasaan yang tetap memerlukan waktu untuk bertumbuh. Dan mungkin, di era yang serba instan ini, kesabaran justru menjadi salah satu kemampuan yang semakin berharga. [][Rudi Tenggarawan/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.