Belakangan ini, ruang publik terasa semakin bising. Sedikit berbeda pendapat, seseorang bisa langsung dicurigai punya kepentingan. Kritik dianggap serangan. Dukungan dianggap pesanan. Dan sebelum sebuah argumen selesai dijelaskan, label sering datang lebih dulu.
Di media sosial, situasi seperti ini semakin mudah ditemukan. Ada yang mengkritik kebijakan pemerintah, lalu disebut 'antek asing'. Ada yang mencoba melihat dari sisi berbeda, lalu dianggap membela 'rezim koruptor'.
Yang menarik, banyak percakapan berhenti tepat setelah label itu muncul. Tidak ada lagi usaha memahami. Tidak ada lagi rasa ingin mendengar sampai selesai. Seolah setelah seseorang ditempatkan dalam kotak tertentu, semua yang ia katakan otomatis kehilangan nilai.
Mari kita lihat, mungkin inilah salah satu perubahan terbesar dalam cara manusia berkomunikasi hari ini. Kita semakin cepat memberi nama pada orang lain, tapi semakin lambat memahami kenapa mereka berbicara seperti itu.
Baca Juga: Ketika Bakom Merangkul Terasa Seperti Mengklaim Mitra Strategis, Publik Membaca Apa?
Ketika Label Datang Lebih Cepat dari Percakapan
Media sosial membuat manusia hidup di ruang yang bergerak sangat cepat. Pendapat muncul setiap detik, komentar datang tanpa jeda, dan semua orang merasa harus segera menentukan posisi. Dalam situasi seperti ini, label jadi cara paling mudah untuk menyederhanakan keadaan.
Daripada mendengar panjang, orang memilih mengelompokkan. Daripada memahami konteks, orang lebih cepat membaca arah. Akhirnya, percakapan yang seharusnya bisa berkembang justru berhenti di identitas.
Fenomena ini sebenarnya tidak sepenuhnya baru. Namun, dunia digital membuat semuanya terasa lebih ekstrem. Algoritma media sosial cenderung mempertemukan orang dengan pandangan yang serupa. Lama-kelamaan, seseorang hidup dalam ruang yang terasa nyaman karena semua orang berpikir hampir sama. Ketika ada pandangan berbeda masuk, respons pertama sering bukan rasa penasaran, tapi kecurigaan.
Psikolog sosial Jonathan Haidt pernah menjelaskan bahwa manusia modern semakin mudah terjebak dalam pola 'us versus them'. Ketika identitas kelompok menjadi terlalu kuat, perbedaan pendapat tidak lagi dilihat sebagai bagian dari diskusi, tapi sebagai ancaman terhadap kelompok itu sendiri.
Dari sini, label menjadi semacam senjata cepat. Ia tidak dipakai untuk memahami, tapi untuk menentukan siapa kawan dan siapa lawan. Padahal seringkali, manusia jauh lebih rumit daripada label yang ditempelkan padanya.
Baca Juga: Semakin Kita Mengenal Diri, Kenapa Rasanya Semakin Tidak Pasti?
Kita Tidak Lagi Mendengar Isi, Tapi Membaca Posisi
Hal lain yang terasa berubah adalah cara publik menilai sebuah pendapat. Yang dilihat pertama kali bukan lagi isi pembicaraannya, tapi dianggap berada di kubu mana. Kalimat yang sama bisa diterima atau ditolak hanya karena siapa yang mengatakannya.
Jika datang dari pihak yang dianggap 'satu kelompok', publik cenderung lebih longgar. Tapi jika datang dari pihak yang dianggap berbeda, responsnya bisa jauh lebih keras, bahkan sebelum pendapat itu selesai dibaca.
Saya rasa, di titik ini, banyak orang sebenarnya tidak lagi mencari benar atau salah. Mereka hanya ingin memastikan siapa yang harus dibela dan siapa yang harus dicurigai. Akibatnya, ruang publik berubah menjadi tempat yang melelahkan. Semua orang berbicara, tapi sedikit yang benar-benar mendengar.
Bahkan dalam isu yang seharusnya bisa didiskusikan secara tenang, label terus muncul seperti refleks otomatis. Kritik dianggap kebencian. Dukungan dianggap pesanan. Dan netralitas sering dicurigai sebagai keberpihakan yang disembunyikan.
Yang hilang perlahan bukan hanya kualitas diskusi. Tapi rasa percaya bahwa manusia masih bisa berbeda tanpa harus saling membenci.
Baca Juga: Ketika Cuaca Panas Tak Lagi Terasa Biasa
Yang Paling Sunyi Mungkin Adalah Keinginan untuk Memahami
Kenyataannya, manusia modern sebenarnya tidak kekurangan informasi. Yang mulai langka justru kemampuan untuk duduk sedikit lebih lama sebelum menyimpulkan. Kita hidup di masa ketika semua orang ingin cepat bereaksi. Timeline bergerak cepat, opini berganti setiap jam, dan rasa takut tertinggal membuat banyak orang merasa harus segera ikut bicara.
Dalam situasi seperti ini, memahami terasa terlalu lambat. Padahal, tidak semua hal bisa dipotong menjadi hitam dan putih. Tidak semua kritik lahir dari kebencian. Dan tidak semua dukungan muncul karena kepentingan.
Kadang seseorang hanya sedang kecewa. Kadang seseorang hanya melihat dari pengalaman yang berbeda. Kadang seseorang hanya ingin didengar tanpa langsung dicurigai. Namun, ruang publik hari ini terasa semakin sempit untuk kemungkinan-kemungkinan seperti itu.
Sosiolog Zygmunt Bauman pernah menggambarkan masyarakat modern sebagai masyarakat yang semakin cair, cepat berubah, dan mudah bereaksi, tetapi perlahan kehilangan kedalaman hubungan antarmanusia.
Mungkin itu sebabnya label terasa semakin mudah diberikan. Karena manusia tidak lagi punya cukup waktu, atau mungkin cukup kesabaran, untuk benar-benar mengenal satu sama lain.
Padahal, ketika semua orang sibuk menempelkan label, ada sesuatu yang diam-diam ikut hilang. Bukan kemenangan debat. Bukan dominasi opini. Tapi kemampuan untuk melihat manusia lain sebagai manusia.
Mungkin kita memang tidak akan selalu sepakat. Dan mungkin ruang publik memang tidak akan pernah benar-benar tenang. Namun, rasanya cukup menyedihkan ketika setiap perbedaan pendapat langsung berubah menjadi tuduhan identitas. Karena setelah semua label dilemparkan, setelah semua kubu selesai saling menunjuk, yang tersisa sering kali hanya kelelahan.
Dan mungkin, yang paling hilang hari ini bukan kesepakatan. Tapi kemampuan untuk tetap mendengar, bahkan ketika tidak setuju. []

Liora Anindhita/KK