Oleh Vikalena Lasmoskwa

Ada kalimat yang mungkin lebih berpengaruh dalam kehidupan organisasi di Indonesia daripada berbagai buku kepemimpinan yang pernah ditulis. Kalimat itu sederhana, pendek, dan sering diucapkan dengan nada setengah bercanda. Namun dampaknya bisa sangat panjang: “Daripada Bapak marah.”

Kalimat itu mungkin terdengar sepele. Namun dari sanalah, sering lahir laporan yang dipoles, angka yang diperindah, masalah yang disembunyikan, dan kenyataan yang berhenti di tengah jalan sebelum sampai kepada orang yang seharusnya mengetahuinya.

Saya sering berpikir bahwa banyak persoalan besar tidak selalu dimulai dari niat jahat. Kadang-kadang, ia justru dimulai dari rasa takut yang sederhana. Takut dimarahi. Takut dianggap gagal. Takut dicap tidak kompeten. Takut menjadi pembawa kabar buruk.

Ketika ketakutan itu tumbuh di dalam sebuah organisasi, sesuatu yang menarik mulai terjadi. Orang-orang tidak lagi fokus mencari kebenaran. Mereka mulai fokus mencari cara agar atasan merasa nyaman. Dan di fase ini, budaya ABS, Asal Bapak Senang, mulai menemukan tempatnya.

Baca Juga: Amicus Curiae untuk Nadiem Makarim dan Rasa Keadilan yang Ikut Gelisah 

Ketika Kabar Buruk Tak Lagi Punya Tempat

Dalam teori organisasi modern, informasi adalah salah satu aset paling berharga. Seorang pemimpin hanya bisa mengambil keputusan yang baik jika ia menerima gambaran yang cukup akurat tentang kenyataan di lapangan. Masalahnya, informasi tidak selalu bergerak dengan jujur ketika harus melewati banyak lapisan kekuasaan.

Semakin tinggi sebuah jabatan, semakin besar kemungkinan seseorang tidak lagi melihat kenyataan secara langsung. Ia melihat dunia melalui laporan, presentasi, ringkasan, grafik, dan angka yang disusun oleh orang lain. Dengan kata lain, kualitas keputusannya sangat bergantung pada kualitas informasi yang diterimanya.

Sayangnya, tak semua organisasi memberi ruang yang aman bagi kejujuran. Di banyak tempat, orang yang membawa kabar buruk justru dianggap sebagai sumber masalah. Ketika target tidak tercapai, yang dipermasalahkan sering kali bukan penyebab kegagalannya, melainkan siapa yang berani menyampaikannya. Ketika sebuah program mengalami kendala, yang muncul bukan diskusi tentang solusi, melainkan pertanyaan tentang siapa yang harus disalahkan.

Lama-kelamaan orang belajar sesuatu. Mereka belajar bahwa kenyataan bisa berbahaya. Mereka belajar bahwa angka yang terlalu jujur bisa mengundang kemarahan. Mereka belajar bahwa menyampaikan masalah secara terbuka kadang lebih berisiko daripada membiarkannya tersembunyi.

Akibatnya, laporan mulai berubah fungsi. Ia tidak lagi dibuat untuk membantu memahami keadaan. Ia dibuat untuk menjaga suasana tetap aman.

Masalah yang besar dikecilkan. Hambatan yang serius dihaluskan. Target yang meleset diberi penjelasan yang terdengar optimistis. Semua dilakukan bukan karena orang-orang tersebut selalu berniat menipu, melainkan karena mereka ingin bertahan di dalam sistem yang tidak nyaman menerima kenyataan.

Di situlah budaya ABS menjadi berbahaya. Ia membuat organisasi kehilangan kemampuan melihat dirinya sendiri secara jujur.

Baca Juga: Korupsi: Harapan yang Terus Dicuri Secuil demi Secuil

Pemimpin yang Hanya Mendengar Kabar Baik Sedang Berjalan dalam Gelap

Banyak orang mengira budaya ABS adalah kesalahan bawahan. Saya justru melihatnya sedikit berbeda. Dalam banyak kasus, budaya ABS lebih sering jadi gejala daripada penyebab.

Jika sebuah organisasi dipenuhi orang yang takut berbicara jujur, pertanyaan yang layak diajukan bukan hanya mengapa mereka takut. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa mereka merasa tidak aman untuk berkata jujur.

Pemimpin yang baik tidak selalu menyukai kabar buruk. Tidak ada manusia yang menikmati mendengar bahwa programnya gagal, targetnya meleset, atau kebijakannya tidak berjalan sesuai rencana. Namun pemimpin yang baik memahami bahwa kabar buruk sering kali jauh lebih berguna daripada pujian yang tidak jujur.

Sebaliknya, pemimpin yang hanya ingin mendengar hal-hal menyenangkan sedang menciptakan masalah yang mungkin tidak langsung terlihat. Ia sedang mengajarkan seluruh organisasinya bahwa kenyamanan lebih penting daripada keakuratan. Ia sedang mengirim pesan bahwa yang dihargai bukan kebenaran, melainkan kesesuaian dengan harapan.

Dalam jangka pendek, situasi seperti itu mungkin terasa menyenangkan. Rapat berjalan lancar. Presentasi terlihat bagus. Grafik menunjukkan kemajuan. Semua orang tampak bekerja dengan baik.

Namun, kenyataan tak pernah benar-benar hilang hanya karena tidak dilaporkan. Masalah yang tidak dibicarakan tetap ada. Kesalahan yang tidak diakui tetap terjadi. Kegagalan yang disembunyikan tetap berkembang di bawah permukaan. Ketika akhirnya muncul ke permukaan, ukurannya sering kali sudah jauh lebih besar daripada saat pertama kali terjadi.

Karena itulah banyak organisasi besar, perusahaan besar, bahkan pemerintahan di berbagai negara pernah mengalami kegagalan yang sebenarnya sudah diketahui oleh banyak orang jauh sebelumnya. Informasinya ada. Orang-orangnya tahu. Namun tidak ada yang merasa aman untuk menyampaikannya secara utuh kepada pengambil keputusan.

Yang sampai ke atas bukan kenyataan. Yang sampai ke atas adalah versi kenyataan yang sudah disesuaikan.

Saya sering merasa bahwa masalah terbesar dalam sebuah organisasi bukanlah kurangnya data. Kita hidup di zaman ketika data tersedia dalam jumlah yang sangat besar. Yang jauh lebih sulit adalah memastikan bahwa data tersebut masih cukup jujur ketika sampai ke meja orang yang paling membutuhkan.

Karena itu, ketika mendengar istilah ABS, saya tidak melihatnya hanya sebagai lelucon lama yang hidup di lingkungan birokrasi atau kantor. Saya melihatnya sebagai peringatan tentang sesuatu yang lebih serius. Ia mengingatkan kita bahwa kekuasaan memiliki kecenderungan alami untuk menjauh dari kenyataan jika tidak ada orang yang berani membawanya kembali.

Jadi, sebuah organisasi tidak akan runtuh karena terlalu banyak kritik. Sebuah organisasi juga tidak akan gagal karena terlalu banyak orang yang berkata jujur. Yang jauh lebih berbahaya adalah ketika semua orang mulai percaya bahwa mengatakan kebenaran merupakan tindakan yang berisiko.

Karena ketika itu terjadi, masalah yang sebenarnya bukan lagi soal bawahan yang ingin menyenangkan atasan. Masalah yang sebenarnya adalah organisasi tersebut perlahan kehilangan kemampuan untuk melihat dunia sebagaimana adanya.

Dan bagi siapa pun yang memegang kekuasaan, tidak ada keadaan yang lebih berbahaya daripada mengambil keputusan berdasarkan kenyataan yang sudah dipoles agar terlihat menyenangkan. []

Bandung, 15 Juni 2026