Oleh Vikalena Lasmoskwa
Kita semakin pandai mengajak orang membicarakan kesehatan mental. Namun, ketika mereka mulai bercerita, apakah kita benar-benar bersedia mendengar sesuatu yang mungkin mengubah keputusan kita?
Saya membayangkan seseorang yang akhirnya memberanikan diri mengatakan bahwa dirinya sedang kesulitan. Mungkin ia sudah berminggu-minggu mempertimbangkan kalimat yang tepat, mencari waktu yang tidak merepotkan, dan mengumpulkan keberanian untuk mengakui bahwa semuanya tidak sedang baik-baik saja. Tetapi ketika cerita itu keluar, tanggapan yang diterimanya justru berupa nasihat tentang bersyukur, berpikir positif, atau mencoba menjadi lebih kuat.
Orang yang mendengarkan mungkin mempunyai niat baik. Ia ingin membantu, menawarkan jalan keluar, atau sekadar membuat suasana kembali nyaman. Namun, ada sesuatu yang sering terlewat ketika kita terlalu cepat memberikan jawaban: kita belum tentu memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan orang tersebut.
Kegelisahan itu kembali saya pikirkan menjelang Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober 2026. Tahun ini, World Federation for Mental Health mengangkat tema Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change, yang juga jadi fokus kampanye Organisasi Kesehatan Dunia [WHO]. Pesannya terasa sederhana, tetapi mengandung tuntutan yang jauh lebih besar daripada sekadar mengajak orang berbicara tentang kesehatan mental.
WHO menekankan pentingnya melibatkan orang-orang yang mempunyai pengalaman langsung dengan kondisi kesehatan mental dalam kebijakan, layanan, dan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka. Pengalaman tersebut dipandang sebagai bentuk pengetahuan yang berharga, karena ada hal-hal yang hanya dapat dipahami sepenuhnya oleh mereka yang menjalaninya. Persoalannya, suara mereka kerap diminta untuk didengar, tetapi belum tentu diberi kesempatan memengaruhi keputusan.
Saya berhenti cukup lama pada gagasan terakhir itu. Betapa sering kita meminta seseorang menceritakan pengalamannya, lalu tetap merasa paling tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Kita memberi tempat bagi ceritanya, tetapi belum tentu bagi kehendaknya.
Baca Juga: Kalau Kegembiraan Kita Mengganggu Orang Lain, Siapa yang Seharusnya Belajar Bertoleransi?
Ketika Mendengarkan Menjadi Cara untuk Tetap Mengendalikan
Ada perbedaan antara mendengarkan seseorang dan memberikan kesempatan kepadanya untuk menentukan apa yang ia butuhkan. Perbedaan itu mungkin terdengar kecil, tetapi dampaknya dapat terasa sangat besar. Seseorang bisa berbicara selama satu jam dan tetap pulang dengan perasaan bahwa pendapatnya tidak benar-benar diperhitungkan.
Dalam keluarga, misalnya, seseorang mungkin mengatakan bahwa ia membutuhkan bantuan profesional. Namun, keluarganya merasa persoalan itu cukup diselesaikan dengan lebih banyak berdoa, beristirahat, atau mengurangi penggunaan telepon genggam. Nasihat tersebut mungkin lahir dari kepedulian, tetapi kepedulian tidak otomatis membuat seseorang memahami kebutuhan orang lain.
Di tempat kerja, situasinya bisa mempunyai wajah berbeda. Perusahaan mengadakan seminar kesehatan mental, membagikan pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan hidup, dan mengajak karyawan lebih terbuka ketika mengalami tekanan. Namun, ketika seorang karyawan menjelaskan bahwa beban kerjanya sudah melampaui kemampuan, persoalannya justru dikembalikan kepada ketahanan pribadi.
Ia diminta mengatur waktu dengan lebih baik. Ia dianjurkan beristirahat, tetapi pekerjaannya tetap harus selesai dengan tenggat yang sama. Perusahaan mungkin telah mendengar keluhannya, tetapi belum bersedia memeriksa keadaan yang membuat keluhan itu muncul.
Saya kira di sinilah empati dapat berubah menjadi sesuatu yang terasa baik bagi pemberinya, tetapi kurang berarti bagi penerimanya. Kita merasa sudah peduli karena menyediakan waktu untuk mendengarkan. Sementara itu, orang yang bercerita masih harus menghadapi keadaan yang sama setelah percakapan berakhir.
Tentu mendengarkan bukan tindakan yang sia-sia. Banyak orang membutuhkan ruang aman untuk menyampaikan pengalaman tanpa takut direndahkan, dihakimi, atau segera diperbaiki. Tetapi ketika sebuah persoalan membutuhkan perubahan nyata, mendengarkan semestinya menjadi awal dari tanggung jawab berikutnya.
Ada pula persoalan mengenai siapa yang dianggap berhak mengetahui sesuatu. Kita cenderung memberikan otoritas kepada orang yang mempunyai pendidikan, jabatan, atau keahlian tertentu. Itu masuk akal, terutama ketika menyangkut diagnosis dan penanganan kesehatan yang membutuhkan kompetensi profesional.
Namun, pengetahuan profesional tidak menghapus pengetahuan seseorang tentang pengalaman hidupnya sendiri. Seorang psikiater dapat memahami gangguan mental melalui pendidikan dan praktik klinis, sementara pasien memahami bagaimana kondisi tersebut memengaruhi kesehariannya. Keduanya membawa pengetahuan berbeda yang semestinya dapat saling melengkapi.
Orang yang menjalani suatu kondisi mungkin mengetahui betapa sulitnya mendapatkan layanan, bagaimana rasanya menghadapi stigma, atau mengapa sebuah pendekatan membuatnya merasa kehilangan kendali atas hidupnya. Pengetahuan semacam itu tidak selalu tertulis dalam pedoman pelayanan. Karena itulah pengalaman langsung layak dipertimbangkan ketika keputusan yang menyangkut kehidupan mereka dibuat.
Suara yang Didengar Seharusnya Mempunyai Pengaruh
Salah satu perhatian penting WHO dalam peringatan tahun ini adalah perubahan menuju layanan kesehatan mental berbasis komunitas. WHO menyoroti persoalan perawatan jangka panjang di institusi psikiatri yang dapat memisahkan seseorang dari keluarga dan kehidupan sosialnya. Organisasi tersebut mendorong layanan yang lebih menghormati martabat, pilihan, serta hak individu untuk memperoleh dukungan di tengah masyarakat.
Tentu perubahan itu tidak sesederhana memindahkan pasien dari sebuah bangunan ke rumahnya. Dibutuhkan layanan kesehatan yang memadai, dukungan keluarga, tempat tinggal yang aman, kesempatan bekerja, dan lingkungan yang tidak terus-menerus memberikan stigma. Tanpa semua itu, kata kebebasan bisa kehilangan makna karena orang yang membutuhkan pertolongan justru dibiarkan menghadapi kesulitannya sendirian.
Yang menarik bagi saya adalah prinsip di balik perubahan tersebut. Orang dengan pengalaman langsung mengenai kondisi kesehatan mental semestinya dilibatkan sejak awal dalam merancang layanan yang akan mereka gunakan. Mereka bukan sekadar penerima bantuan atau sumber cerita yang diperlukan untuk membuat sebuah kampanye terasa menyentuh.
Gagasan ini juga menuntut kita memeriksa cara memandang orang yang sedang mengalami kesulitan psikologis. Kita mungkin terlalu mudah menganggap mereka sebagai orang yang perlu ditolong, tetapi lupa bahwa mereka tetap mempunyai kehendak, penilaian, dan kemampuan menyampaikan kebutuhan. Kondisi kesehatan mental seseorang tidak dengan sendirinya menghapus haknya untuk berpartisipasi dalam keputusan tentang kehidupannya.
Memang ada situasi ketika seseorang membutuhkan perlindungan atau penanganan khusus, termasuk ketika keselamatannya sedang terancam. Namun, kebutuhan akan pertolongan tidak seharusnya menjadi alasan umum untuk mengabaikan suaranya. Dukungan yang baik perlu mempertimbangkan keselamatan sekaligus menghormati martabat dan kemampuan seseorang mengambil keputusan sejauh memungkinkan.
Saya juga memikirkan kebiasaan kita menjadikan pengalaman orang lain sebagai pelajaran bagi diri sendiri. Kita mendengar seseorang menceritakan depresi, lalu merasa tersentuh. Kita membaca kisah pemulihan, membagikannya di media sosial, dan menuliskan pesan bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Semua itu dapat membantu mengurangi stigma. Namun, setelah rasa haru berlalu, apakah kita bersedia melakukan sesuatu yang lebih sulit? Apakah kita bersedia mengubah kebiasaan, kebijakan, cara bekerja, atau cara memperlakukan seseorang ketika ia mengatakan bahwa pendekatan kita justru menyakitinya?
Mungkin pertanyaan itulah yang membedakan kepedulian sebagai perasaan dan kepedulian sebagai tindakan. Perasaan dapat muncul ketika kita mendengar sebuah kisah yang menyedihkan. Tindakan menuntut kita menerima kemungkinan bahwa sesuatu dalam cara hidup kita sendiri perlu diperbaiki.
Kita juga perlu mengingat bahwa seseorang tidak berkewajiban menceritakan pengalaman paling menyakitkan dalam hidupnya agar dianggap pantas memperoleh perhatian. Tidak setiap orang siap membuka kondisi kesehatan mentalnya kepada keluarga, atasan, teman, atau publik. Hak untuk didengar semestinya berjalan bersama hak untuk menjaga privasi dan menentukan batas keterbukaan.
Hari Kesehatan Mental Sedunia sering menjadi kesempatan untuk mengulang pesan bahwa orang yang sedang kesulitan tidak sendirian. Pesan itu penting, terutama bagi mereka yang selama ini merasa terasing atau takut mencari pertolongan. Namun, tahun ini kita diajak melangkah lebih jauh daripada sekadar meyakinkan seseorang bahwa ada orang lain yang bersedia mendengarkan.
Barangkali kita perlu mulai bertanya apa yang terjadi setelah seseorang selesai bercerita. Apakah kebutuhannya dipertimbangkan, apakah pendapatnya memengaruhi keputusan, dan apakah ia memperoleh kesempatan untuk menjalani hidup dengan lebih bermartabat? Sebab seseorang dapat dikelilingi banyak pendengar, tetapi tetap merasa sendirian ketika tidak satu pun bersedia mengubah apa-apa.
Mungkin ukuran kepedulian bukan seberapa lama kita sanggup mendengarkan penderitaan orang lain. Ukurannya juga terlihat dari seberapa jauh kita bersedia membiarkan suara mereka mengubah cara kita memperlakukan mereka. []
Bandung, 09 Oktober 2026