Oleh Rommy Rimbarawa

Awal Agustus ini, api kembali menjadi kabar buruk dari kawasan Bromo. Kebakaran melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ketika sebagian besar wilayah Jawa sedang memasuki puncak musim kemarau. 

Petugas gabungan, relawan, masyarakat, hingga berbagai perangkat penanggulangan dikerahkan untuk menahan api agar tidak terus meluas. Kawasan wisata pun harus menghadapi konsekuensi dari sesuatu yang dalam beberapa jam dapat mengubah bentang alam yang selama ini kita kenal begitu indah.

Kebakaran Bromo tentu bukan peristiwa pertama yang kita saksikan. Setiap memasuki musim kemarau, kabar serupa hampir selalu datang dari berbagai wilayah Indonesia. Kadang dari Sumatra dan Kalimantan dengan kebakaran lahan gambutnya, kadang dari kawasan pegunungan di Jawa, atau dari padang savana dan hutan yang mengering setelah berbulan-bulan menerima sedikit hujan.

Yang membuat saya terus memikirkannya bukan semata kenyataan bahwa hutan kembali terbakar. Musim kemarau memang membuat vegetasi mengering dan risiko kebakaran meningkat. Angin dapat membuat api menyebar jauh lebih cepat, sementara medan yang sulit dijangkau membuat pemadaman menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Semua itu sudah kita ketahui.

Justru karena kita mengetahuinya, pertanyaannya menjadi semakin sulit dihindari. Jika kemarau datang setiap tahun, jika kita bahkan mampu memprediksi kapan puncaknya terjadi, mengapa kebakaran hutan masih sering terasa seperti sebuah kejutan?

BMKG sebenarnya sudah memperingatkan sejak beberapa bulan sebelumnya bahwa kemarau 2026 berpotensi datang lebih awal, berlangsung lebih panjang, dan lebih kering dibandingkan kondisi normal di banyak wilayah Indonesia. Puncak musim kemarau juga telah diperkirakan terjadi terutama pada Agustus, sementara risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat sejak Juli dan memasuki periode kritis pada Agustus hingga September. Artinya, kita tidak sedang berhadapan dengan sesuatu yang datang tanpa pemberitahuan. Kita sudah memiliki kalender risikonya.

Baca Juga: Yang Terancam Punah Mungkin Bukan Harimau atau Badak, Melainkan Masa Depan Kita 

Kita Sebenarnya Sudah Tahu Kapan Risiko Itu Datang

Kemampuan kita membaca risiko kebakaran hari ini jauh lebih baik dibandingkan beberapa dekade lalu. Satelit dapat membantu mendeteksi titik panas. Informasi meteorologi dapat memperlihatkan tingkat kekeringan dan kondisi cuaca yang mendukung penyebaran api. BMKG bahkan telah mengembangkan Sistem Peringatan Hutan dan Lahan atau SPARTAN untuk memberikan informasi mengenai tingkat bahaya kebakaran berdasarkan kondisi meteorologi. Kita semakin mampu mengetahui kapan sebuah kawasan memasuki kondisi yang membuat api lebih mudah muncul dan menyebar.

Pemerintah juga tidak bisa dikatakan hanya menunggu api muncul. Menghadapi kemarau 2026, berbagai langkah telah dilakukan, mulai dari rapat koordinasi kesiapsiagaan, Operasi Modifikasi Cuaca, pembasahan kawasan rawan, pemantauan titik panas, patroli darat dan udara, penyiapan helikopter water bombing, hingga pengaktifan posko dan patroli terpadu. Di sejumlah wilayah rawan karhutla, pemerintah bahkan telah menetapkan status siaga sebelum memasuki puncak musim kemarau.

Semua itu penting untuk diakui karena persoalan kebakaran hutan terlalu serius jika hanya dijadikan bahan untuk mencari siapa yang dapat disalahkan. Petugas yang berjibaku memadamkan api bukan bekerja dalam kondisi mudah. Mereka menghadapi panas, asap, angin, medan berat, dan api yang dapat berubah arah dengan cepat. Pemadaman dari udara pun bergantung pada cuaca dan kondisi penerbangan yang memungkinkan.

Namun, keberadaan begitu banyak perangkat mitigasi justru membawa kita kepada pertanyaan berikutnya. Sudahkah kemampuan mengetahui risiko itu benar-benar berubah menjadi budaya mencegah risiko?

Sebab ada perbedaan antara memiliki sistem mitigasi dan hidup dengan kesadaran mitigasi. Sistem dapat dibangun melalui teknologi, lembaga, peralatan, dan prosedur. Kesadaran membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sulit, yaitu perubahan perilaku manusia sebelum bencana terjadi.

Kita sering melihat bagian paling dramatis dari penanganan kebakaran. Helikopter menjatuhkan ribuan liter air dari udara, petugas berjalan memasuki kawasan yang terbakar, mobil pemadam bergerak menuju lokasi, dan kepulan asap terlihat dari kejauhan. Semua itu penting dan memang harus dilakukan ketika api sudah muncul. Tetapi sesungguhnya keberhasilan mitigasi yang paling besar justru hampir tidak pernah terlihat.

Hutan yang tidak terbakar tidak masuk berita. Petugas yang menemukan titik api kecil lalu memadamkannya sebelum meluas tidak menjadi perbincangan nasional. Warga yang memilih tidak membakar sampah ketika vegetasi sedang sangat kering tidak pernah mendapatkan sorotan. Pengunjung kawasan wisata yang memastikan tidak meninggalkan sumber api juga tidak dianggap sedang melakukan sesuatu yang luar biasa. Padahal justru tindakan-tindakan seperti itulah yang kita perlukan lebih banyak.

Baca Juga: Ketika Bertani Tak Lagi Menjanjikan, Masih Bisakah Kita Bicara Ketahanan Pangan? 

Mitigasi Terbaik Justru Ketika Tidak Ada Bencana yang Perlu Dipadamkan

Ada kecenderungan manusia untuk mengukur keberhasilan penanggulangan bencana dari kemampuan merespons setelah sesuatu terjadi. Kita menghitung berapa banyak personel yang diterjunkan, berapa helikopter yang beroperasi, berapa titik api yang berhasil dipadamkan, atau berapa hari yang diperlukan sampai keadaan terkendali. Semua indikator tersebut penting, tetapi seharusnya bukan satu-satunya cara kita mengukur keberhasilan.

Mitigasi bekerja dengan logika yang berbeda. Keberhasilannya justru terlihat ketika sesuatu yang berpotensi menjadi bencana tidak pernah berkembang menjadi bencana. Karena itu, keberhasilan mitigasi memang sulit dirayakan. Tidak ada gambar dramatis, tidak ada kepulan asap, dan tidak ada operasi besar yang bisa diperlihatkan kepada publik.

Di sinilah masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya dengan pemerintah. BNPB berulang kali mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, sementara pemerintah daerah diminta memperketat pengawasan kawasan rawan dan mempercepat pemadaman ketika titik api ditemukan. Patroli terpadu yang melibatkan pemerintah, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat juga menjadi bagian penting dari pencegahan.

Kesadaran seperti itu harus menjangkau lebih jauh daripada kawasan yang selama ini dikenal rawan karhutla. Kawasan wisata alam pun membutuhkan disiplin yang sama. Ketika rumput dan vegetasi mengering, aktivitas manusia yang pada musim lain terlihat biasa dapat membawa risiko berbeda. Karena itu, larangan membuat api, membuang puntung rokok sembarangan, membakar sampah, atau melakukan aktivitas lain yang berpotensi memicu api tidak seharusnya dipahami sebagai sekadar aturan pengelola kawasan.

Ia adalah bagian dari kesadaran bahwa musim mengubah tingkat risiko. Untuk kebakaran Bromo kali ini, kita tentu tidak perlu tergesa-gesa menunjuk penyebab sebelum penyelidikan memberikan jawaban yang jelas. Justru kebiasaan mencari pelaku setiap kali terjadi kebakaran kadang membuat kita lupa melihat persoalan yang lebih besar. Pencegahan tidak hanya berbicara tentang siapa yang menyalakan api, tetapi bagaimana sebuah kawasan dikelola ketika kita sudah mengetahui bahwa kondisi alam sedang sangat mudah terbakar.

Barangkali kita juga perlu mengubah cara memandang musim kemarau. Kemarau bukanlah bencana. Ia merupakan bagian dari siklus iklim yang telah berlangsung jauh sebelum manusia membangun kota, jalan, dan kawasan wisata. Yang menjadi persoalan adalah ketika kondisi kering bertemu dengan vegetasi yang mudah terbakar, angin yang membantu penyebaran api, aktivitas manusia yang tidak cukup berhati-hati, dan kesiapsiagaan yang terlambat diterjemahkan menjadi tindakan.

Karena itu, pekerjaan mencegah kebakaran tidak bisa dimulai ketika asap pertama terlihat. Ia harus dimulai berbulan-bulan sebelumnya, ketika prakiraan musim dikeluarkan, peta kerawanan diperbarui, sumber air diperiksa, patroli diperkuat, masyarakat diberi informasi, dan aturan aktivitas di kawasan rawan disesuaikan dengan tingkat bahayanya. BMKG sendiri menekankan bahwa peringatan dini harus diterjemahkan menjadi tindakan dini.

Mungkin di situlah pelajaran yang seharusnya kita bawa dari kebakaran Bromo dan berbagai kebakaran hutan lainnya. Kita sebenarnya semakin pintar memprediksi alam. Kita memiliki lebih banyak data, teknologi, perangkat pemantauan, dan kemampuan respons dibandingkan masa lalu. Tantangannya sekarang adalah memastikan bahwa pengetahuan itu membuat perilaku kita ikut berubah.

Sebab tidak banyak gunanya mengetahui kemarau akan datang jika kita baru bersiap ketika api sudah menyala. Tidak cukup mengetahui kawasan sedang kering jika aktivitas berisiko tetap dilakukan seperti hari-hari biasa. Teknologi peringatan dini hanya akan menjadi sekumpulan data apabila tidak diikuti kewaspadaan dari orang-orang yang berada paling dekat dengan kawasan yang hendak dilindungi.

Bromo mungkin akan kembali hijau setelah musim berganti. Rumput akan tumbuh, hujan akan turun, dan wisatawan akan kembali menikmati bentang alamnya. Namun, jika setelah itu kita kembali melupakan pelajaran yang sama sampai kemarau berikutnya datang, maka persoalan kita sebenarnya bukan kekurangan teknologi mitigasi.

Persoalan kita adalah ingatan yang terlalu pendek terhadap bencana yang datang berulang. Kemarau akan datang lagi tahun depan. Kita bahkan kurang lebih sudah tahu kapan waktunya. Pertanyaannya adalah apakah kita akan kembali menunggu asap terlihat sebelum bergerak, atau mulai menganggap hutan yang tidak terbakar sebagai keberhasilan yang jauh lebih besar daripada api yang berhasil kita padamkan. []

Bandung, 10 Agustus 2026