Oleh Rommy Rimbarawa

Saya selalu percaya bahwa sebagian besar orang sebenarnya tidak terlalu keberatan dengan aturan.

Meski ada ungkapan bahwa aturan dibuat untuk dilanggar, kita tetap rela antre ketika membeli tiket. Kita mau menunggu giliran saat mengurus dokumen. Kita bersedia mengikuti prosedur ketika masuk ke sebuah acara. Bahkan dalam banyak situasi yang melelahkan, kita tetap berusaha mengikuti aturan karena memahami bahwa aturan dibuat agar banyak orang bisa hidup berdampingan dengan lebih tertib. 

Karena itulah saya sering berpikir bahwa yang membuat masyarakat marah bukanlah aturan itu sendiri. Yang membuat masyarakat marah adalah ketika mereka melihat aturan berlaku berbeda untuk orang yang berbeda. Perasaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun jika diperhatikan, banyak kemarahan publik yang muncul belakangan justru berakar dari hal tersebut.

Kadang peristiwanya terlihat kecil. Seseorang menyerobot antrean. Seseorang masuk ke area tertentu tanpa memenuhi syarat yang berlaku bagi peserta lain. Seseorang mendapatkan perlakuan khusus yang tidak bisa diperoleh oleh kebanyakan orang. Jika dilihat secara terpisah, kasus-kasus seperti ini mungkin tidak terlalu besar.

Namun, reaksi masyarakat seringkali jauh lebih besar daripada pelanggaran yang terjadi. Saya rasa penyebabnya bukan karena masyarakat menjadi lebih mudah marah. Penyebabnya adalah karena masyarakat melihat sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar pelanggaran itu sendiri. Mereka melihat ketidakadilan.

Baca Juga: Giorgiana Rosas dan Pesona Hidup yang Terlihat Utuh 

Kita Tidak Hanya Mengikuti Aturan, Kita Membayar Harga untuk Mengikutinya

Bayangkan seseorang yang mendaftar sebuah lomba lari. Ia membayar biaya pendaftaran, datang sesuai jadwal, mengikuti seluruh prosedur, dan memenuhi semua syarat yang diminta panitia. Lalu di tengah acara, ia melihat ada orang lain yang bisa masuk tanpa melalui proses yang sama.

Mungkin yang dilanggar hanya sebuah kartu identitas peserta. Mungkin hanya sebuah akses tertentu. Mungkin hanya beberapa menit antrean. Tapi yang dirasakan peserta bukanlah soal kartu atau antrean tersebut. Yang dirasakan adalah bahwa ada orang yang memperoleh sesuatu tanpa membayar harga yang sama. Perasaan semacam itu sangat manusiawi.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak hanya mengikuti aturan. Kita juga mengeluarkan waktu, tenaga, uang, dan kesabaran untuk mematuhinya. Ketika melihat ada orang lain yang tampaknya tidak perlu melakukan hal yang sama, rasa tidak adil pun muncul dengan cepat.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di acara olahraga. Kita melihatnya di jalan raya ketika seseorang menggunakan fasilitas yang bukan haknya. Kita melihatnya di ruang publik ketika ada orang yang merasa tidak perlu menunggu giliran. Kita melihatnya dalam berbagai layanan ketika sebagian orang memperoleh kemudahan yang tidak tersedia bagi yang lain.

Bahkan ketika dampaknya kecil, kesan yang ditinggalkan seringkali besar.

Baca Juga: Amicus Curiae untuk Nadiem Makarim dan Rasa Keadilan yang Ikut Gelisah 

Ketika Status Jadi Jalan Pintas

Menariknya, masalah ini seringkali tidak berkaitan dengan institusi tertentu. Ia bisa muncul di mana saja. Kadang seseorang merasa lebih berhak karena jabatannya. Kadang karena kedekatan dengan pihak tertentu. Kadang karena status sosial. Kadang karena merasa dirinya penting. Kadang hanya karena terbiasa mendapatkan perlakuan khusus.

Bentuknya berbeda-beda, tetapi polanya hampir selalu sama. Ada keyakinan bahwa aturan yang berlaku bagi banyak orang tidak sepenuhnya berlaku bagi dirinya.

Saya rasa, hampir semua orang pernah menyaksikan situasi seperti itu. Mungkin di kantor, mungkin di sekolah, mungkin di lingkungan tempat tinggal, atau mungkin saat menghadiri sebuah acara. Yang menarik, masyarakat biasanya tidak terlalu mempersoalkan keistimewaan jika keistimewaan tersebut memiliki alasan yang jelas dan transparan.

Misalnya, kita memahami mengapa ambulans mendapatkan prioritas di jalan. Kita memahami mengapa penyandang disabilitas mendapatkan akses khusus. Kita memahami mengapa ada jalur tertentu untuk kondisi darurat.

Yang sering memicu kemarahan justru ketika keistimewaan itu terlihat tidak memiliki dasar yang jelas selain siapa seseorang atau siapa yang dikenalnya. Di sini publik mulai mempertanyakan bukan hanya tindakan seseorang, tetapi juga sistem yang membiarkannya terjadi.

Baca Juga: Dari Mi Instan sampai Gorengan, Semua Kita Hidup dari Gandum Impor

Mengapa Hal Kecil Bisa Jadi Besar

Kadang saya heran melihat betapa cepat sebuah kasus seperti ini menjadi viral. Ada peristiwa yang secara materi mungkin tidak besar. Tidak ada kerugian miliaran rupiah. Tidak ada bencana besar. Tidak ada korban dalam jumlah banyak. Namun, dalam hitungan jam, ribuan orang ikut berkomentar.

Semakin lama saya mengamati, semakin saya merasa bahwa yang dibicarakan publik bukanlah peristiwa itu sendiri. Peristiwa tersebut hanyalah simbol.

Ia mengingatkan masyarakat pada pengalaman-pengalaman lain yang pernah mereka alami. Pengalaman ketika harus menunggu sementara orang lain bisa langsung lewat. Pengalaman ketika harus memenuhi syarat yang panjang sementara orang lain tampak mendapat pengecualian. Pengalaman ketika merasa bahwa posisi dan kedekatan lebih berpengaruh daripada aturan.

Karena itu, kemarahan publik seringkali merupakan akumulasi dari banyak pengalaman kecil yang tersimpan dalam ingatan bersama. Satu peristiwa hanya menjadi pemicunya.

Kepercayaan Dibangun oleh Keteladanan

Ada satu hal yang sering terlupakan dalam diskusi tentang aturan. Aturan tidak hanya ditegakkan melalui sanksi. Aturan juga ditegakkan melalui keteladanan.

Masyarakat lebih mudah mematuhi aturan ketika mereka percaya bahwa aturan tersebut berlaku untuk semua orang. Sebaliknya, masyarakat akan semakin sinis ketika melihat adanya kesan bahwa sebagian orang dapat menghindarinya tanpa konsekuensi yang berarti.

Karena itu, setiap bentuk perlakuan istimewa yang tidak jelas alasannya sebenarnya memiliki biaya yang lebih besar daripada yang terlihat. Biaya tersebut adalah berkurangnya kepercayaan.

Ketika kepercayaan mulai berkurang, orang tidak lagi melihat aturan sebagai sesuatu yang adil. Mereka mulai melihat aturan sebagai sesuatu yang hanya berlaku bagi mereka yang tidak memiliki akses, kedekatan, atau posisi tertentu.

Padahal sebuah masyarakat yang sehat membutuhkan keyakinan bahwa aturan berlaku sama bagi semua orang. Mungkin itulah alasan mengapa kasus-kasus semacam ini selalu menarik perhatian publik. Bukan karena pelanggarannya selalu besar, tetapi karena ia menyentuh sesuatu yang sangat mendasar dalam kehidupan bersama.

Kita semua tahu bahwa dunia tidak pernah sepenuhnya setara. Kita memahami bahwa setiap orang memiliki latar belakang, kemampuan, dan posisi yang berbeda. Namun di tengah semua perbedaan itu, masyarakat tetap berharap ada satu hal yang berlaku sama untuk semua orang. Yaitu aturan.

Karena ketika aturan hanya berlaku untuk sebagian orang, yang rusak bukan hanya ketertiban. Yang perlahan ikut rusak adalah kepercayaan bahwa kita sedang bermain di lapangan yang sama. []

Bandung, 23 Juni 2026