Angka-angka ekonomi Indonesia sebenarnya tidak sepenuhnya memberi kabar buruk. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada di kisaran lima persen. 

Dibandingkan banyak negara lain yang masih berjuang menghadapi perlambatan ekonomi global, capaian tersebut sering disebut sebagai bukti bahwa fondasi ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Pemerintah pun berulang kali menyampaikan optimisme bahwa ekonomi nasional tetap berada di jalur yang sehat.

Namun, di luar ruang konferensi pers dan laporan statistik, percakapan masyarakat sering kali terdengar berbeda. Di media sosial, semakin banyak orang berbicara tentang sulitnya mencari pekerjaan. Gelombang pemutusan hubungan kerja masih terjadi di berbagai sektor. Kelas menengah mulai merasa penghasilannya semakin sulit mengejar kenaikan biaya hidup. Tidak sedikit keluarga yang mulai mencari sumber pendapatan tambahan, menunda pembelian rumah, mengurangi pengeluaran, atau lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

Dua gambaran itu tampak bertolak belakang. Di satu sisi, ekonomi disebut terus tumbuh. Di sisi lain, banyak orang merasa hidup justru semakin berat. Apakah keduanya bisa sama-sama benar? Jawabannya: sangat mungkin.

Baca Juga: Mengapa Negeri yang Kaya Batu Bara Masih Bisa Kekurangan Listrik?

Pertumbuhan Ekonomi Tidak Selalu Terasa Sama

Dalam ilmu ekonomi, pertumbuhan ekonomi menunjukkan bahwa nilai barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara terus bertambah. Indonesia masih mampu mempertahankan pertumbuhan di kisaran lima persen dalam beberapa tahun terakhir, sebuah capaian yang relatif baik di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Namun, pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti setiap rumah tangga merasakan perbaikan dengan intensitas yang sama.

Bayangkan sebuah keluarga yang lima tahun lalu dapat menyisihkan sebagian pendapatannya untuk menabung, berlibur, atau membayar cicilan dengan tenang. Hari ini, keluarga yang sama mungkin masih memperoleh penghasilan, bahkan mungkin sedikit lebih tinggi daripada sebelumnya. Namun pengeluaran mereka juga meningkat. Harga kebutuhan pokok berubah, biaya pendidikan naik, biaya kesehatan bertambah, cicilan tetap berjalan, dan berbagai kebutuhan digital yang dulu belum dianggap penting kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Akibatnya, ruang bernapas menjadi semakin sempit.

Secara statistik, ekonomi tetap tumbuh. Secara psikologis, banyak keluarga merasa kemampuan finansialnya justru menyusut. Perasaan itu bukan sekadar ilusi.

Baca Juga: Mengapa Orang Tetap Turun ke Jalan Ketika Jarang Ada yang Berubah?

Ketika Rasa Aman Ekonomi Mulai Berkurang

Beberapa bulan terakhir, publik berkali-kali mendengar kabar pemutusan hubungan kerja dari perusahaan besar. Dunia teknologi menjadi salah satu sektor yang paling sering diberitakan, tetapi efisiensi juga terjadi di berbagai industri lain. Fenomena tersebut memperlihatkan perubahan penting dalam dunia kerja.

Dulu, bekerja di perusahaan besar sering dianggap sebagai simbol keamanan. Hari ini, perusahaan besar pun melakukan penyesuaian organisasi, otomatisasi, dan efisiensi untuk menjaga daya saing. Akibatnya, banyak pekerja mulai menyadari bahwa rasa aman tidak lagi sepenuhnya bergantung pada nama perusahaan tempat mereka bekerja.

Perubahan ini memengaruhi cara masyarakat memandang masa depan. Orang menjadi lebih berhati-hati menggunakan uangnya. Mereka mulai mencari pekerjaan sampingan, membangun usaha kecil, mengikuti pelatihan keterampilan baru, atau mencoba memperoleh penghasilan tambahan dari berbagai platform digital.

Beberapa waktu lalu, Kedaikata juga menyoroti fenomena semakin banyak orang mencari pemasukan tambahan. Gelombang tersebut ternyata bukan sekadar tren gaya hidup. Ia merupakan respons terhadap dunia kerja yang semakin sulit diprediksi.

Ketika kepastian berkurang, naluri manusia adalah membangun cadangan.

Baca Juga: Bangsa yang Terlalu Lelah untuk Marah

Data Tidak Selalu Berlawanan dengan Perasaan

Sering muncul anggapan bahwa jika masyarakat merasa ekonomi sedang berat, berarti data pemerintah pasti keliru. Cara berpikir seperti itu sebenarnya terlalu sederhana.

Data statistik dan pengalaman sehari-hari sering kali menggambarkan dua hal yang berbeda. Data makro melihat ekonomi dari atas. Ia menghitung produksi nasional, konsumsi, investasi, ekspor, inflasi, dan berbagai indikator besar lainnya.

Sementara itu, masyarakat melihat ekonomi dari dapur rumahnya sendiri.

Apakah uang belanja masih cukup? Apakah cicilan masih dapat dibayar tepat waktu? Apakah anak masih bisa melanjutkan sekolah? Apakah pekerjaan masih terasa aman? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu bergerak secepat angka pertumbuhan ekonomi.

Karena itu, tidak mengherankan jika sebuah negara dapat mencatat pertumbuhan ekonomi yang baik, tetapi sebagian warganya tetap merasa sedang menghadapi masa yang sulit. Kedua hal tersebut dapat terjadi pada waktu yang bersamaan.

Baca Juga: Mengapa Harapan Tetap Bertahan di Tengah Kabar Buruk?

Tantangan Terbesar Ada pada Daya Beli

Banyak ekonom mengingatkan bahwa konsumsi rumah tangga merupakan salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ketika masyarakat mulai menahan belanja karena khawatir terhadap masa depan, dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor usaha.

Pemerintah sendiri berulang kali menegaskan pentingnya menjaga daya beli masyarakat sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam berbagai kesempatan juga menekankan bahwa APBN digunakan sebagai instrumen untuk melindungi masyarakat dan menjaga daya beli di tengah ketidakpastian global. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah memahami besarnya tantangan yang sedang dihadapi rumah tangga Indonesia.

Namun, menjaga daya beli bukan hanya soal memberikan bantuan atau insentif. Ia juga berkaitan dengan tersedianya lapangan kerja yang berkualitas, kepastian pendapatan, inflasi yang terkendali, serta keyakinan masyarakat bahwa kondisi ekonomi beberapa tahun ke depan akan lebih baik daripada hari ini.

Di sinilah aspek psikologis menjadi sangat penting. Orang tidak hanya membelanjakan uang berdasarkan jumlah uang yang dimiliki. Mereka juga membelanjakan uang berdasarkan rasa percaya terhadap masa depannya. Ketika rasa percaya itu menurun, perilaku konsumsi ikut berubah.

Baca Juga: Kenapa Banyak Anak Muda Indonesia Mulai Membayangkan Hidup di Tempat Lain?

Pertumbuhan Perlu Dirasakan, Bukan Hanya Dilaporkan

Setiap pemerintah tentu ingin menunjukkan bahwa ekonomi nasional tetap berada dalam kondisi yang baik. Itu penting karena optimisme merupakan bagian dari menjaga stabilitas.

Namun pada saat yang sama, pemerintah juga perlu mendengarkan suara masyarakat yang merasa kehidupannya belum membaik.

Keduanya tidak harus dipertentangkan. Data yang baik tetap perlu dijaga. Tetapi pengalaman warga juga tidak boleh diabaikan.

Dalam kebijakan publik, keberhasilan bukan hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi. Keberhasilan juga diukur dari apakah masyarakat benar-benar merasakan manfaat pertumbuhan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat tidak hidup di dalam tabel statistik. Mereka hidup di antara tagihan listrik, biaya sekolah, cicilan rumah, harga bahan makanan, ongkos transportasi, dan ketidakpastian pekerjaan.

Karena itu, pertanyaan yang sesungguhnya mungkin bukan lagi apakah ekonomi Indonesia masih tumbuh. Data sudah memberikan jawabannya.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah pertumbuhan itu sudah cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sebab sebuah perekonomian baru benar-benar terasa sehat ketika angka-angka yang membaik tidak hanya terlihat dalam laporan resmi, tetapi juga mulai terasa di meja makan, di tempat kerja, dan di ruang-ruang kecil tempat keluarga Indonesia menyusun harapan tentang masa depannya. [][Redaksi Kedaikata]