Bagi sebagian masyarakat, pemadaman listrik bergilir mungkin hanya berarti beberapa jam tanpa internet, pendingin ruangan, atau peralatan elektronik yang biasa digunakan sehari-hari. 

Namun, bagi pelaku usaha kecil, pekerja yang bergantung kepada koneksi digital, hingga keluarga yang aktivitasnya sangat bergantung pada listrik, gangguan tersebut dapat membawa konsekuensi yang jauh lebih besar. Di balik peristiwa yang tampak sederhana itu, muncul pertanyaan yang layak diajukan: bagaimana mungkin negara yang dikenal sebagai salah satu produsen batu bara terbesar dunia masih bisa menghadapi persoalan pasokan listrik?

Pertanyaan tersebut kembali mengemuka setelah muncul laporan mengenai pemadaman listrik bergilir yang dikaitkan dengan gangguan pasokan batu bara dan ketidakseimbangan suplai listrik di sejumlah wilayah. Bagi banyak orang, situasi ini terasa paradoksal. Indonesia tidak dikenal sebagai negara yang miskin sumber energi. Justru sebaliknya, batu bara selama bertahun-tahun menjadi salah satu komoditas ekspor utama yang menopang perekonomian nasional.

Di atas kertas, Indonesia memiliki semua syarat untuk menjadi negara dengan pasokan listrik yang stabil. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa ketersediaan sumber daya dan keandalan sistem tidak selalu berjalan beriringan. Di sinilah persoalan energi menjadi lebih kompleks daripada sekadar berapa banyak batu bara yang tersedia di dalam negeri.

Baca Juga: Ekonomi Hijau: Indonesia Mau Jadi Pelaku atau Sekadar Pasar?

Negeri Batu Bara yang Menyalakan Listrik dengan Batu Bara

Selama beberapa dekade, batu bara menjadi tulang punggung sistem kelistrikan Indonesia. Sebagian besar listrik yang digunakan rumah tangga, industri, dan sektor jasa berasal dari pembangkit listrik tenaga uap yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakar utama. Pilihan tersebut selama bertahun-tahun dianggap masuk akal karena Indonesia memiliki cadangan yang besar dan biaya pembangkit yang relatif kompetitif.

Pada 2024, produksi batu bara Indonesia tercatat sekitar 831–836 juta ton, menjadikannya salah satu produsen terbesar dunia dan eksportir utama batu bara termal. Pada saat yang sama, sekitar dua pertiga listrik Indonesia masih bergantung pada batu bara. Artinya, persoalan listrik di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari satu pertanyaan besar: bagaimana sistem yang bertumpu begitu kuat pada batu bara tetap bisa rentan ketika rantai pasok batu bara terganggu?

Dalam konteks inilah pemadaman bergilir tidak hanya menjadi isu teknis. Ia menunjukkan bahwa sistem energi modern tidak ditentukan semata-mata oleh jumlah sumber daya yang dimiliki suatu negara. Yang sama pentingnya adalah kemampuan mengelola, mendistribusikan, dan memastikan sumber daya tersebut sampai ke tempat yang membutuhkannya pada waktu yang tepat.

Banyak masyarakat mungkin beranggapan bahwa negara penghasil batu bara seharusnya tidak mungkin mengalami persoalan listrik. Logika tersebut memang terdengar masuk akal. Namun dunia energi modern bekerja melalui jaringan yang jauh lebih rumit daripada hubungan langsung antara tambang dan pembangkit listrik.

Baca Juga: Mengapa Orang Tetap Turun ke Jalan Ketika Jarang Ada yang Berubah?

Masalahnya Tidak Selalu Kekurangan Batu Bara


PLN mengelola sistem kelistrikan berskala sangat besar. Pada 2024, PLN memproduksi 184,6 TWh listrik sendiri, dan totalnya mencapai 343,9 TWh jika termasuk kontribusi pembangkit swasta. Dalam sistem sebesar itu, gangguan kecil pada pasokan bahan bakar, distribusi, cuaca, atau pembangkit dapat berubah menjadi masalah yang terasa langsung oleh warga.

Ketika terjadi gangguan listrik, asumsi pertama yang sering muncul adalah bahwa pasokan batu bara habis atau tidak mencukupi. Dalam praktiknya, persoalan energi jarang sesederhana itu. Gangguan dapat terjadi pada berbagai titik dalam rantai pasok, mulai dari produksi, pengiriman, penyimpanan, hingga operasional pembangkit dan jaringan distribusi.

Cuaca buruk dapat menghambat pengiriman batu bara melalui jalur laut. Gangguan logistik dapat membuat bahan bakar terlambat tiba di pembangkit. Masalah teknis di fasilitas pembangkitan juga dapat mengurangi kapasitas listrik yang tersedia meskipun pasokan bahan bakar sebenarnya masih ada. Bahkan ketika sumber dayanya tersedia, sistem tetap memerlukan koordinasi yang baik agar seluruh komponennya dapat bekerja secara selaras.

Ketergantungan terhadap batu bara juga tak hanya datang dari listrik publik. Kapasitas pembangkit captive Indonesia mencapai 22,9 GW pada 2024, dan lebih dari 80% di antaranya berbasis batu bara. Ini berarti kebutuhan batu bara ikut ditarik oleh industri, terutama sektor pengolahan mineral dan smelter. 

Situasi ini menunjukkan bahwa ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam. Negara yang memiliki sumber daya besar tetap dapat menghadapi persoalan apabila sistem pengelolaannya tidak memiliki fleksibilitas dan cadangan yang memadai. Sebaliknya, beberapa negara yang relatif miskin sumber daya justru mampu menjaga keandalan pasokan energi melalui diversifikasi sumber energi dan perencanaan yang matang.

Indonesia menghadapi tantangan tambahan karena wilayahnya yang luas dan berbentuk kepulauan. Sistem kelistrikan nasional tidak beroperasi sebagai satu jaringan tunggal yang sepenuhnya terhubung. Banyak wilayah masih bergantung pada sistem regional dengan tingkat kapasitas dan cadangan yang berbeda-beda. Ketika gangguan terjadi di satu wilayah, kemampuan untuk menutupi kekurangan pasokan tidak selalu sama seperti di kawasan yang memiliki jaringan lebih besar.

Dalam situasi seperti ini, pemadaman bergilir sering jadi pilihan terakhir untuk menjaga keseimbangan sistem. Dari sudut pandang operator, langkah tersebut dilakukan untuk mencegah gangguan yang lebih besar. Namun dari sudut pandang masyarakat, yang terlihat tetap sama: listrik tidak tersedia ketika dibutuhkan.

Baca Juga: Mengapa Harapan Tetap Bertahan di Tengah Kabar Buruk?

Ketika Gelap Bukan Lagi Sekadar Metafora

Menariknya, isu listrik kali ini muncul di tengah ruang publik yang beberapa waktu terakhir akrab dengan istilah #IndonesiaGelap. Tentu saja makna keduanya berbeda. Tagar tersebut lahir sebagai metafora sosial dan politik yang menggambarkan rasa pesimisme, ketidakpastian, atau kekecewaan sebagian masyarakat terhadap berbagai persoalan yang sedang dihadapi bangsa ini.

Namun, kemunculan pemadaman listrik membuat kata ‘gelap’ memperoleh lapisan makna yang lain. Bagi sebagian warga, gelap bukan lagi hanya jadi simbol. Ia adalah pengalaman yang nyata ketika lampu padam, aktivitas terganggu, dan pekerjaan terhenti untuk sementara waktu.

Keterhubungan dua hal tersebut mungkin bukan sesuatu yang direncanakan. Namun, keduanya sama-sama memperlihatkan satu hal penting: masyarakat sangat sensitif terhadap hal-hal mendasar yang dianggap seharusnya selalu tersedia. Ketika sesuatu yang selama ini dianggap pasti tiba-tiba terasa rapuh, muncul pertanyaan yang lebih besar tentang ketahanan sistem yang menopangnya.

Listrik adalah salah satu fondasi kehidupan modern. Hampir semua aktivitas ekonomi, pendidikan, komunikasi, dan layanan publik bergantung padanya. Karena itu, gangguan listrik sering menimbulkan dampak psikologis yang lebih besar daripada durasinya sendiri. Ia mengingatkan masyarakat betapa banyak aspek kehidupan sehari-hari yang bergantung pada infrastruktur yang jarang dipikirkan ketika semuanya berjalan normal.

Persoalan ini tak dapat disederhanakan menjadi sekadar ada atau tidak adanya batu bara. Indonesia memang memiliki sumber daya energi yang besar. Namun, pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa kekayaan sumber daya bukanlah jaminan otomatis bagi keandalan layanan publik.

Bagi masyarakat, ukuran keberhasilan sistem energi sebenarnya sangat sederhana. Mereka tidak menghitung berapa juta ton batu bara yang diproduksi setiap tahun. Mereka juga tidak mengikuti detail rantai pasok energi nasional dari hari ke hari. Yang mereka rasakan adalah apakah listrik tersedia ketika dibutuhkan, apakah aktivitas dapat berjalan normal, dan apakah layanan dasar yang menopang kehidupan sehari-hari dapat diandalkan.

Karena itu, pertanyaan yang paling penting mungkin bukan apakah Indonesia memiliki cukup batu bara. Pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah Indonesia sudah cukup siap mengelola kekayaan energi yang dimilikinya menjadi layanan yang benar-benar dapat diandalkan oleh masyarakat. Sebab bagi warga biasa, ukuran keberhasilan energi nasional tidak terlihat di laporan produksi. Ia terlihat dari lampu yang tetap menyala ketika dibutuhkan. [][Redaksi Kedaikata]