Produk anti-aging dulu identik dengan usia dewasa. Sekarang, banyak remaja SMP mulai mengenalnya bahkan sebelum benar-benar memahami kebutuhan kulitnya sendiri.

Fenomena ini berkembang sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Konten skincare routine remaja semakin ramai di media sosial, lengkap dengan istilah seperti retinol, skin barrier, dan fine lines yang dulu lebih sering dibahas orang dewasa.

Tak sedikit anak usia belasan tahun mulai memakai produk dengan klaim mencegah penuaan dini. Padahal secara biologis, kulit remaja sebenarnya masih berada dalam fase produksi kolagen yang sangat baik.

Perubahan ini memperlihatkan bahwa industri kecantikan sedang bergerak ke arah yang berbeda. Pasar beauty tidak lagi hanya menyasar kebutuhan perawatan, tetapi juga rasa cemas terhadap penampilan sejak usia yang semakin muda.

Dokter spesialis kulit dan kelamin dr. Alfrid Asditya Miraz Harahap, M.Ked.Klin, Sp.DV, pernah menjelaskan bahwa penggunaan bahan aktif tertentu pada usia terlalu muda dapat memicu iritasi jika tidak disesuaikan dengan kondisi kulit. Kulit remaja umumnya belum membutuhkan produk anti-aging dengan kandungan kuat seperti yang digunakan usia matang.

Namun tren tersebut terus berkembang karena industri kecantikan modern bekerja bukan hanya lewat kebutuhan, tetapi juga persepsi.

Baca Juga: Skincare Anak SMP Makin Mahal, Tapi Siapa yang Bikin Itu Terasa Normal?

Banyak Remaja Mulai Takut Menua Bahkan Sebelum Benar-Benar Dewasa

Media sosial membuat standar visual bergerak jauh lebih cepat dibanding sebelumnya. Kulit mulus tanpa pori, wajah cerah sempurna, dan tampilan ‘glowing’ terus muncul hampir setiap hari di layar ponsel.

Akibatnya, banyak remaja mulai melihat penuaan sebagai sesuatu yang harus dicegah sedini mungkin. Bahkan garis halus kecil atau tekstur kulit normal mulai dianggap masalah yang perlu diperbaiki.

Profesor budaya dan media Sarah Banet-Weiser dalam Authentic™: The Politics of Ambivalence in a Brand Culture [2012] menjelaskan bahwa industri modern membangun hubungan emosional dengan konsumen melalui rasa tidak aman terhadap diri sendiri. Semakin seseorang merasa kurang sempurna, semakin besar kemungkinan mereka terus membeli produk.

Hal itu terlihat jelas dalam industri beauty sekarang. Produk tidak lagi hanya dijual sebagai perawatan kulit, tetapi sebagai cara untuk mempertahankan ‘versi terbaik’ diri sendiri selama mungkin.

Psikolog klinis anak dan remaja dr. A. Kasandra Putranto juga pernah menyoroti bagaimana paparan media sosial dapat memengaruhi cara remaja memandang tubuh dan wajahnya sendiri. Ketika standar visual terasa terlalu tinggi, banyak anak mulai merasa penampilan alaminya tidak cukup baik.

Padahal masa remaja sebenarnya adalah fase ketika tubuh masih berkembang secara alami. Kulit berubah, hormon naik turun, dan kondisi wajah belum stabil sepenuhnya.

Baca Juga: Kerutan di Area T Sering Muncul Lebih Dulu, Apa Penyebabnya?

Industri Beauty Sekarang Tidak Hanya Menjual Produk, Tapi Juga Kecemasan

Fenomena remaja memakai skincare anti-aging memperlihatkan bahwa pasar kecantikan sedang bergerak semakin agresif. Usia konsumen menjadi semakin muda karena industri memahami bahwa kebiasaan membeli bisa dibangun sejak awal.

Ketika seseorang mulai percaya dirinya membutuhkan banyak produk sejak remaja, hubungan dengan industri kecantikan bisa berlangsung sangat panjang.

Penulis dan jurnalis kecantikan Jessica DeFino dalam berbagai tulisannya tentang budaya beauty modern pernah mengkritik bagaimana industri kecantikan sering memonetisasi rasa takut terhadap penuaan dan ketidaksempurnaan wajah manusia.

Kondisi ini membuat banyak orang sulit membedakan mana kebutuhan kulit yang nyata dan mana rasa cemas yang terus dibentuk secara sosial.

Bukan berarti remaja tidak boleh merawat diri. Menjaga kebersihan wajah dan kesehatan kulit tetap penting. Namun ketika anak SMP mulai merasa harus memakai produk anti-aging agar terlihat ‘cukup baik’, ada perubahan budaya yang sebenarnya sedang terjadi secara diam-diam.

Mungkin pertanyaannya bukan lagi apakah produk itu efektif atau tidak. Yang mulai perlu dipikirkan adalah kenapa manusia modern semakin takut terlihat menua, bahkan sebelum benar-benar tumbuh dewasa. [][Eva Evilia/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.