Saat sebagian besar penduduk masih terlelap dini hari, bumi bergeser. Dentuman keras di perbukitan Cisarua bagai alarm alam yang tak sempat direspon baik oleh banyak orang.
Musibah longsor yang menghantam Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026, bukan sekadar cerita kumparan tanah yang runtuh. Ia adalah tragedi yang merenggut rumah, menyapu kehidupan, dan menyisakan kehilangan dalam jumlah besar. Antara News mencatat, kejadian itu berawal ketika hujan deras mengguyur kawasan perbukitan sejak beberapa hari sebelumnya, hingga tanah jenuh air dan tak mampu lagi menahan beban di atasnya.
Para warga yang biasa menjalani pagi dengan rutinitas sederhana tak sempat menyadari tanda-tanda awal. Sekitar pukul 03.00 WIB terdengar suara gemuruh dari arah lereng, lalu aliran tanah, lumpur, dan bebatuan membawa serta apa pun yang berada di jalurnya, termasuk rumah dan pekarangan warga.
Baca Juga: Peringatan Dini BMKG: Ketika Cuaca Ekstrem Menjadi Kenyataan Minggu Ini
Kronologi Kejadian dan Dampaknya pada Korban
Dilansir dari detiknews, tim SAR gabungan termasuk TNI, Polri, Basarnas, dan BPBD bergerak cepat setelah longsor terjadi. Dalam evakuasi hari-hari awal, puluhan korban telah ditemukan. Sebanyak 43 kantong jenazah telah dievakuasi, dan puluhan lainnya masih terus dicari di bawah puing rumah serta material longsor. Setidaknya 27 jenazah telah teridentifikasi dan diserahkan kepada keluarga.
Data sementara juga mencatat ratusan warga terdampak. Dari 113 jiwa yang terkena bencana, puluhan berhasil selamat setelah dievakuasi ke tempat aman, tetapi banyak yang masih hilang hingga hari keempat upaya pencarian. Sebanyak 32 orang masih dinyatakan hilang dalam pencarian yang terus berlangsung.
Bagi keluarga yang tinggal di daerah terdampak, setiap detik pencarian adalah harapan yang rapuh — berharap berita baik tentang kerabat yang hilang dan menerima kenyataan pahit tentang kerabat yang ditemukan. Pemulihan trauma ini menjadi pekerjaan panjang, yang dimulai dari upaya evakuasi sampai pemulangan jenazah, dan berlanjut pada proses membangun kembali kehidupan.
Baca Juga: Tak Hanya Banjir, Ini Deretan Bencana Hidrometeorologi yang Mengintai
Mengapa Longsor Itu Begitu Menghancurkan
Permukaan tanah di area Cisarua memiliki karakter yang lebih rumit daripada yang tampak. Menurut kajian geologi, bencana itu bukan hanya dipicu oleh hujan deras, tetapi oleh interaksi kompleks antara formasi geologi kuno dan jenuh air di dalam tanah. Lapisan batuan gunung api tua yang telah rapuh, bersama tekanan air pori yang meningkat, menciptakan kondisi yang sangat rentan terhadap pergerakan tanah.
Selain itu, kontur lereng yang curam mempercepat proses longsor begitu kekuatan geser tanah melemah. Ketika aliran air dari hujan terus menekan tanah di lereng itu, tekanan yang meningkat akhirnya menyebabkan tanah dan material lain bergerak menuruni bukit. Kondisi ini semakin diperparah oleh drainase alami yang terhambat serta aktivitas manusia di sekitar yang mengubah permukaan tanah.
Pakarnya bahkan menggambarkan prosesnya sebagai kombinasi antara sistem geologi alamiah yang rapuh dan kondisi jenuh air yang mencapai ambang kritis — sehingga ketika tanah akhirnya runtuh, ia bergerak bak aliran lumpur deras (mudflow) yang membawa material batu dan kayu, bukan hanya tanah biasa. Aliran semacam ini memiliki daya rusak jauh lebih tinggi daripada banjir biasa karena massa materialnya sangat berat dan bergerak dengan cepat.
Lereng yang curam, struktur tanah yang lemah, dan curah hujan ekstrem menciptakan ‘pola badai sempurna’ bagi longsor besar. Ketika itu terjadi di malam hari, saat warga terlelap, kekuatan destruktifnya menjadi lebih dahsyat karena sedikit waktu untuk evakuasi dini.
Baca Juga: Mitigasi Masih Lambat Ditanggapi: Kenapa Begitu Sulit Bermain Cepat di Perubahan Iklim?
Pelajaran yang Tersisa
Peristiwa itu mengingatkan kita bahwa bencana tidak selalu tampak seperti badai besar di langit. Kadang ia lahir dari proses panjang yang terjadi di bawah permukaan, di mana tanda-tanda kecil sering diabaikan sampai semuanya runtuh secara tiba-tiba. Kondisi geologi setempat, siklus hujan, dan perubahan penggunaan lahan semuanya menjadi bagian dari cerita panjang ini.
Pemerintah setempat kini menunggu rekomendasi dari ahli geologi untuk merencanakan relokasi warga yang terdampak. Langkah ini dilakukan agar warga tidak dipindahkan ke lokasi yang sama risikonya, tetapi menanti kajian ilmiah yang matang untuk memastikan tempat baru yang lebih aman.
Longsor Cisarua meninggalkan luka yang dalam, tetapi ia juga membuka mata banyak pihak akan pentingnya memahami karakter alam yang tidak bisa dipaksa. Ketika tanah yang tampak diam menyimpan energi besar, kewaspadaan — bukan sekadar perasaan aman — menjadi kunci untuk menanggulangi tragedi berikutnya. [][Rommy Rimbarawa/KK]
[penulisan artikel ini dibantu riset AI dan telah melewati kurasi Redaksi]