Bagi sebagian anak, ruang belajar terbaik ternyata bukan selalu di dalam kelas. Ada yang justru tumbuh lebih berani ketika belajar langsung dari alam terbuka.

Sabtu pagi, 16 Mei 2026, suasana Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Bandung, tampak berbeda. Puluhan siswa dan alumni SLB-B Karya Bhakti datang bersama guru dan orangtua mereka untuk mengikuti kegiatan outing class bertajuk Aku Bisa! Mission Card Challenge.

Sebanyak 26 siswa dengan berbagai kebutuhan khusus diajak keluar dari rutinitas ruang kelas untuk belajar melalui pengalaman langsung di alam bebas. Mereka bermain, bernyanyi, melatih kemandirian, hingga mengikuti berbagai permainan edukatif yang dirancang untuk membangun keberanian dan rasa percaya diri.

Bagi SLB-B Karya Bhakti, kegiatan seperti itu bukan sekadar rekreasi sekolah biasa.


“Alam adalah guru yang luar biasa. Anak-anak belajar tentang keberanian, kerja sama, dan rasa syukur melalui pengalaman nyata di luar ruangan,” ujar Plt. Kepala Sekolah SLB-B Karya Bhakti, Ummy Latifah.

Ummy menjelaskan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pendekatan outdoor education yang membantu meningkatkan konsentrasi, kesehatan fisik, hingga rasa percaya diri siswa. Dalam suasana yang lebih terbuka, anak-anak bisa belajar dengan lebih rileks dibanding pola pembelajaran formal di ruang kelas.

Baca Juga: Benarkah Indonesia Rendah Literasi?

Alam Bebas Memberi Ruang Belajar yang Tidak Selalu Bisa Ditemukan di Dalam Kelas


Kegiatan outing class itu juga melibatkan orangtua siswa. Para peserta diajak menjalani berbagai aktivitas sederhana yang ternyata punya makna besar bagi proses tumbuh mereka, mulai dari menyiapkan makanan sendiri, melipat pakaian, sampai tampil menyanyi dan menari di depan orang lain.

“Senang deh, melihat teman-teman siswa dan alumni SLB-B Karya Bhakti ini bisa bergembira dengan mengikuti berbagai games yang melatih kepercayaan diri dan kemandirian mereka,” ujar Alia Jessica dari Hands for Help Pusat yang hadir dari Jakarta.

Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi SLB-B Karya Bhakti bersama Hands for Help Bandung [HFH Bandung]. Organisasi sosial itu membantu menghadirkan berbagai aktivitas edukatif dan permainan yang dirancang untuk membangun kemampuan sosial maupun emosional anak-anak.

“Di kegiatan outing class Aku Bisa!, kami mengajak para siswa dan alumni mengikuti berbagai aktivitas menarik berupa permainan edukatif yang melatih kepercayaan diri, kemandirian, dan membuka ruang pembelajaran holistik,” ujar Ketua HFH Bandung, Sani Afdhaluddin.

Guru Seni Tari SLB-B Karya Bhakti, Resna Widyasari Apandi, menjelaskan bahwa alam memberikan stimulasi sensorik yang kaya bagi anak-anak. Menurutnya, suasana luar ruangan membantu siswa lebih mudah mengatur emosi, fokus, sekaligus melatih kemampuan motorik dan keterampilan sosial mereka.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Richard Louv dalam Last Child in the Woods [2005]. Penulis asal Amerika Serikat itu menjelaskan bahwa anak-anak membutuhkan hubungan langsung dengan alam untuk mendukung perkembangan emosional, sosial, dan kesehatan mental mereka.

Baca Juga: Krisis Dunia yang Tak Pernah Datang Merata

Selama 23 Tahun, SLB-B Karya Bhakti Tetap Bertahan Menjadi Sekolah Gratis bagi Anak Disabilitas


Di balik kegiatan sederhana itu, ada perjalanan panjang yang tidak banyak diketahui publik. SLB-B Karya Bhakti berada di bawah Yayasan Pendidikan Karya Bhakti [YPKB], yayasan yang didirikan Dede Apandi dan rekan-rekannya sejak 2003 untuk memperjuangkan pendidikan anak-anak disabilitas di Bandung yang termarjinalkan.

Selama lebih dari dua dekade, sekolah tersebut tetap berjalan sebagai SLB swasta gratis bagi anak-anak dengan hambatan pendengaran dari jenjang SDLB hingga SMLB. Meski telah beberapa kali berpindah lokasi karena belum memiliki bangunan sendiri, sekolah itu tetap bertahan menjadi ruang belajar bagi banyak siswa disabilitas di Kota Bandung.

“Tiga anak saya ini adalah penerus yang akan membawa tongkat estafet, yang akan meregenerasi SLB ini,” ujar Dede Apandi saat hadir bersama pengurus yayasan.


Bagi mereka, pendidikan tidak hanya soal pelajaran akademik. Ada keberanian, rasa percaya diri, dan kemampuan hidup yang juga perlu dibangun sejak dini.

“Outing class ini bagian dari pembelajaran meningkatkan konsep diri anak, kemandirian, keberanian, dan kegembiraan,” tutup Ummy.

Mungkin itu sebabnya kegiatan di alam seperti ini terasa lebih dari sekadar acara sekolah. Di tengah pepohonan dan udara terbuka, anak-anak SLB-B Karya Bhakti sedang belajar sesuatu yang jauh lebih penting: percaya bahwa mereka juga mampu tumbuh, berani, dan menemukan tempatnya sendiri di dunia. [][Vikalena Lasmoskwa/PR/KK]