Oleh Eva Evilia

Indonesia sering disebut sebagai bangsa dengan tingkat literasi yang rendah. Kalimat itu terus diulang dalam seminar, media sosial, sampai ruang pendidikan formal. Semakin sering diucapkan, semakin banyak orang menerimanya sebagai kebenaran mutlak.

Ukuran yang paling sering dipakai biasanya sederhana. Berapa banyak buku yang dibaca dalam setahun, seberapa sering orang datang ke perpustakaan, atau seberapa besar minat masyarakat membeli buku. Dari sana, muncul kesimpulan bahwa masyarakat Indonesia malas membaca dan kurang dekat dengan pengetahuan.

Masalahnya, dunia sudah berubah sangat jauh dibanding dua puluh tahun lalu. Cara manusia belajar tidak lagi selalu datang dari halaman buku yang tebal. Pengetahuan sekarang bergerak melalui video, audio, dokumenter, podcast, thread, bahkan potongan konten pendek di media sosial.

Generasi muda hari ini tumbuh di tengah budaya visual yang sangat kuat. Banyak dari mereka belajar sejarah dari YouTube, belajar desain dari TikTok, belajar psikologi dari video esai, dan memahami isu sosial dari diskusi digital. Pengetahuan tetap dikonsumsi setiap hari, hanya bentuk medianya yang berubah.

Ada kecenderungan menarik ketika generasi yang tumbuh dengan budaya membaca buku memandang generasi digital hari ini. Banyak yang menganggap kebiasaan menonton video tidak bisa disebut sebagai proses belajar yang serius. Seolah-olah pengetahuan hanya sah jika diperoleh lewat membaca teks panjang.

Padahal, tidak semua orang memiliki cara belajar yang sama. Ada orang yang lebih mudah memahami sesuatu melalui suara, ada yang lebih cepat menangkap visual, dan ada yang baru benar-benar mengerti ketika melihat simulasi langsung. Kemampuan memahami informasi tidak selalu bergantung pada format tulisan.

Baca Juga: Ketika Bakom Merangkul Terasa Seperti Mengklaim Mitra Strategis, Publik Membaca Apa?

Ketika Buku Jadi Satu-Satunya Standar Literasi

Selama bertahun-tahun, literasi memang sangat dekat dengan aktivitas membaca buku. Itu bukan hal yang salah, karena buku punya peran besar dalam membangun tradisi berpikir manusia. Banyak pengetahuan mendalam lahir dari kebiasaan membaca yang panjang dan konsisten.

Namun, persoalannya mulai muncul ketika buku dijadikan satu-satunya ukuran kecerdasan dan kesadaran intelektual. Orang yang rajin membaca buku dianggap lebih literat, sementara orang yang belajar dari media visual sering dipandang dangkal. Cara pandang seperti ini terasa semakin tidak relevan dengan perubahan zaman.

Hari ini, ada banyak video dokumenter dengan riset yang sangat serius. Ada podcast berdurasi tiga jam yang isinya jauh lebih mendalam dibanding sebagian konten tulisan singkat di internet. Ada pula video esai yang membahas filsafat, politik, sejarah, dan teknologi dengan kualitas yang sangat baik.

Banyak orang muda akhirnya mengenal isu sosial bukan dari buku akademik, melainkan dari konten digital yang lebih mudah diakses. Mereka mungkin tidak membaca jurnal secara langsung, tetapi mereka tetap memahami perubahan dunia melalui format yang berbeda. Pengetahuan tidak hilang, hanya berpindah medium.

Sayangnya, budaya digital sering terlalu cepat dianggap sebagai simbol kemalasan berpikir. Gen Z kerap dicap tidak suka membaca hanya karena lebih banyak mengonsumsi video. Padahal sebagian dari mereka justru menghabiskan waktu berjam-jam mendengarkan diskusi, menonton analisis, dan mencari informasi baru setiap hari.

Memang ada sisi negatif dari budaya konten cepat. Banyak informasi dikonsumsi tanpa proses verifikasi yang cukup matang. Namun persoalan seperti itu sebenarnya juga pernah terjadi dalam budaya tulisan, karena tidak semua teks otomatis membuat seseorang berpikir kritis.

Membaca buku tetap penting karena membantu manusia membangun fokus, kedalaman berpikir, dan kemampuan memahami gagasan kompleks. Tetapi menganggap video tidak bisa menjadi sumber belajar juga terasa terlalu menyederhanakan kenyataan. Dunia digital hari ini jauh lebih kompleks daripada sekadar hiburan kosong.

Ada orang yang mengenal kesehatan mental dari video pendek, lalu mulai mencari bantuan profesional. Ada orang yang belajar bahasa asing dari konten digital, kemudian berhasil bekerja lintas negara. Ada pula yang memahami isu politik dan lingkungan justru dari dokumenter yang mereka tonton secara rutin.

Kalau proses memahami informasi tetap terjadi, apakah itu tidak bisa disebut sebagai bentuk literasi? Pertanyaan seperti ini mulai muncul karena definisi literasi sendiri sebenarnya terus berkembang mengikuti perubahan teknologi dan budaya manusia.

Baca Juga: Satu Kalimat Bisa Menenangkan, Tapi Juga Bisa Memperkeruh Segalanya

Mungkin Cara Belajarnya yang Berubah

Ada kemungkinan bahwa Indonesia bukan sepenuhnya rendah literasi, melainkan sedang mengalami perubahan besar dalam cara menyerap pengetahuan. Generasi muda hari ini hidup dalam arus informasi yang sangat cepat dan visual. Mereka terbiasa memahami sesuatu melalui kombinasi gambar, suara, teks, dan interaksi digital secara bersamaan.

Keadaan ini tentu berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih dekat dengan buku fisik dan media cetak. Perbedaan itu sering memunculkan benturan cara pandang. Generasi lama melihat budaya visual sebagai penurunan kualitas belajar, sementara generasi baru merasa sedang menemukan cara belajar yang lebih sesuai dengan ritme hidup mereka.

Masalah lain muncul karena sistem pendidikan dan sebagian institusi masih memakai standar lama untuk mengukur literasi. Membaca buku dianggap sebagai bentuk utama belajar, sementara kemampuan memahami informasi digital belum benar-benar dipandang setara. Padahal dunia kerja dan kehidupan modern justru semakin dipenuhi komunikasi visual dan multimedia.

Kemampuan membaca teks panjang memang tetap penting. Dunia tetap membutuhkan orang-orang yang mampu berpikir mendalam, memahami konteks, dan membaca secara kritis. Namun kemampuan menyaring informasi digital juga menjadi keterampilan baru yang sama pentingnya hari ini.

Literasi modern mungkin bukan lagi soal siapa yang paling banyak membaca buku. Literasi mulai bergeser menjadi kemampuan memahami, memproses, dan mengevaluasi informasi dari berbagai medium yang berbeda. Orang yang mampu memilah informasi palsu, memahami konteks, dan menyusun sudut pandang sendiri juga sedang menjalankan proses literasi.

Karena itu, menyebut Indonesia rendah literasi mungkin tidak sesederhana yang sering dibicarakan. Bisa jadi yang sebenarnya terjadi adalah perubahan bentuk pengetahuan yang belum sepenuhnya dipahami oleh generasi sebelumnya. Dunia berubah terlalu cepat, sementara ukuran literasi masih tertahan pada definisi lama.

Buku tentu tidak akan kehilangan nilainya. Buku tetap menjadi ruang penting untuk membangun kedalaman berpikir yang tidak selalu bisa digantikan oleh konten cepat. Namun, menolak seluruh budaya belajar digital juga terasa seperti menutup mata terhadap perubahan besar yang sedang terjadi di depan kita.

Mungkin pertanyaannya bukan lagi apakah generasi sekarang malas membaca. Pertanyaannya adalah: apakah kita siap menerima bahwa manusia modern mulai belajar dengan cara yang berbeda? []