Ada momen ketika seseorang membeli sesuatu bukan karena benar-benar butuh, tapi karena terasa sudah waktunya punya. Di lingkungan tertentu, keputusan seperti ini sering dianggap wajar, bahkan seperti bagian dari proses 'naik level'. Tapi kalau diperhatikan lebih pelan, tidak semua keputusan itu benar-benar berdiri di atas kebutuhan.

Di banyak situasi, terutama di lingkungan pertemanan atau kerja, apa yang kita pakai sering ikut dibaca. Bukan cuma soal fungsi, tapi soal kesan. Dari sini, konsumsi pelan-pelan bergeser, dari sekadar memakai menjadi cara untuk menyesuaikan diri.

Yang menarik, pergeseran ini sering tidak terasa. Semua terlihat normal, karena semua orang juga melakukan hal yang sama. Tapi di balik itu, ada satu dorongan yang jarang dibicarakan secara jujur: keinginan untuk tidak terlihat kurang.

Baca Juga: “Jadi Laki-Laki, Kok Harus Selalu Begitu?”

Gengsi yang Tidak Terlihat, Tapi Mengarahkan Pilihan

Dalam keseharian, gengsi jarang muncul dalam bentuk yang terang-terangan. Ia tidak selalu terlihat sebagai keinginan untuk pamer, tapi lebih sering hadir sebagai kebutuhan untuk 'tidak ketinggalan'. Ketika lingkungan mulai punya standar tertentu, kita ikut menyesuaikan, bahkan tanpa sadar.

Contohnya bisa sangat sederhana. Ganti ponsel bukan karena rusak, tapi karena sudah terasa 'ketinggalan'. Nongkrong di tempat tertentu bukan karena paling nyaman, tapi karena semua orang ke sana. Dari sini, pilihan mulai mengikuti arah yang sama.

Sosiolog Pierre Bourdieu dalam konsep distinction menjelaskan bahwa konsumsi sering digunakan untuk menunjukkan posisi sosial. Apa yang dipilih bukan hanya soal selera, tapi juga cara membedakan diri dari yang lain. Dalam konteks ini, barang yang kita pakai sering berbicara lebih dulu sebelum kita sendiri.

Masalahnya, ketika standar itu terus diikuti, batas antara butuh dan tidak butuh mulai kabur. Apa yang dulu cukup, pelan-pelan terasa kurang. Dari sini, keputusan membeli tidak lagi sederhana, tapi ikut membawa beban yang tidak selalu kita sadari.

Baca Juga: Siapa Bilang Merawat Diri Itu Kurang Laki-Laki?

Dipakai Sedikit, Tapi Dibeli Tetap Banyak

Kalau dilihat lebih dekat, tidak semua yang dibeli benar-benar dipakai maksimal. Ada barang yang hanya dipakai sesekali, ada yang lebih sering disimpan, dan ada juga yang akhirnya hanya jadi 'pernah punya'. Dari luar terlihat lengkap, tapi dari dalam belum tentu benar-benar digunakan.

Di titik ini, fungsi mulai bergeser. Barang tidak lagi sekadar membantu aktivitas, tapi juga menjaga posisi. Ia seperti menjadi penanda bahwa kita masih 'selevel' dengan lingkungan sekitar.

Psikolog Erich Fromm dalam To Have or To Be? menjelaskan bahwa manusia modern sering menilai dirinya dari apa yang dimiliki. Kepemilikan memberi rasa cukup, meskipun rasa itu tidak selalu bertahan lama. Dari sini, membeli bisa terasa seperti solusi cepat, meskipun efeknya tidak panjang.

Kalau diperhatikan, pola ini sering berulang. Ada rasa puas sesaat setelah membeli, lalu perlahan hilang, dan muncul lagi dorongan berikutnya. Siklus ini terus berjalan, tanpa benar-benar membuat semuanya terasa cukup.

Mungkin yang perlu dipertanyakan bukan lagi apa yang kita beli. Tapi apa yang sebenarnya kita jaga di balik keputusan itu. Karena bisa jadi, yang kita kejar bukan barangnya, tapi rasa agar tidak tertinggal dari yang lain. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.