Diskon sekarang tidak lagi sekadar potongan harga. Bagi banyak orang, notifikasi promo sering terasa seperti dorongan emosional yang sulit diabaikan.

Fenomena ini semakin terlihat sejak budaya belanja digital tumbuh sangat cepat. Flash sale tengah malam, tanggal kembar, gratis ongkir, sampai hitung mundur promo membuat banyak orang membeli sesuatu bahkan sebelum benar-benar memikirkannya.

Yang menarik, sebagian besar pembelian itu sebenarnya bukan kebutuhan mendesak. Ada orang yang membeli barang karena takut kehabisan promo, takut tertinggal tren, atau sekadar merasa sayang kalau diskonnya dilewatkan.

Perasaan itu dikenal sebagai fear of missing out atau FOMO. Dalam dunia belanja digital, FOMO membuat orang merasa harus ikut membeli karena khawatir kehilangan kesempatan yang dianggap menguntungkan.

Profesor pemasaran Jonah Berger dalam Contagious: Why Things Catch On [2013] menjelaskan bahwa manusia cenderung tertarik pada sesuatu yang terasa terbatas, ramai, dan sedang dibicarakan banyak orang. Ketika sebuah produk terlihat populer dan hanya tersedia dalam waktu singkat, dorongan untuk ikut membeli menjadi jauh lebih kuat secara psikologis.

Karena itu, diskon modern tidak hanya menjual harga murah, tetapi juga menjual rasa takut tertinggal.

Baca Juga: Sudah Tahu Akan Berulang, Tapi Tetap Saja Kita Ikuti, Why?

Banyak Orang Tidak Sedang Membeli Barang, Tapi Sedang Membeli Rasa Aman dan Senang Sesaat

Belanja digital sekarang dirancang sangat dekat dengan emosi manusia. Ada warna merah untuk promo, hitung mundur waktu, suara notifikasi, sampai tulisan 'stok tersisa sedikit' yang membuat orang merasa harus cepat mengambil keputusan. Akibatnya, proses belanja sering berubah menjadi reaksi emosional, bukan lagi pertimbangan kebutuhan.

Dalam Decoding the New Consumer Mind [2014], psikolog konsumen Dr. Kit Yarrow menjelaskan bahwa konsumen modern semakin sering berbelanja untuk mendapatkan pengalaman emosional, bukan sekadar memenuhi kebutuhan praktis. Aktivitas membeli dapat memberi rasa senang singkat karena otak melepaskan dopamin ketika seseorang merasa berhasil mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Itu sebabnya banyak orang merasa puas beberapa menit setelah checkout, meski akhirnya barang tersebut jarang dipakai.

Fenomena ini semakin kuat karena media sosial membuat orang terus melihat apa yang sedang dibeli orang lain. Ketika satu produk viral, muncul dorongan sosial untuk ikut memiliki agar tidak merasa tertinggal dari lingkungan sekitar. Akibatnya, kebutuhan dan keinginan mulai semakin sulit dibedakan.

Baca Juga: Gaya Belanja Berubah, Dari Butuh ke Ikut yang Terlihat Bernilai

Diskon Digital Membuat Belanja Terasa Seperti Permainan yang Harus Dimenangkan

Belanja online sekarang tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga sensasi permainan. Ada tantangan berburu promo tercepat, voucher terbatas, hadiah tambahan, dan sistem algoritma yang terus menampilkan barang sesuai minat pengguna. Tanpa disadari, pengalaman belanja menjadi semakin personal sekaligus adiktif.

Profesor sosiologi Zygmunt Bauman dalam Consuming Life [2007] menjelaskan bahwa masyarakat modern semakin didorong untuk terus mengonsumsi, bukan hanya demi kebutuhan hidup, tetapi juga demi membangun identitas dan kepuasan emosional. Konsumsi perlahan berubah menjadi bagian dari cara manusia merasa terhubung dengan dunia sosialnya.

Karena itu, fenomena belanja karena FOMO sekarang terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak orang sebenarnya tahu bahwa mereka tidak terlalu membutuhkan barang tersebut, tetapi tetap sulit menolak dorongan untuk ikut membeli.

Mungkin itu sebabnya diskon digital sekarang terasa jauh lebih kuat dibanding masa lalu. Bukan karena barangnya selalu penting, melainkan karena manusia modern semakin terbiasa mencari rasa senang, rasa aman, dan rasa 'tidak tertinggal' lewat tombol checkout di layar ponselnya. [][Adrian Damar/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.